Jadi Stasiun Transit ke NYIA, Wojo Direnovasi dalam Dua Bulan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan sedang melihat maket NYIA di Joglo kantor proyek NYIA PT Pembangunan Perumahan (Persero), Kamis (20/12/2018). - Harian Jogja/Uli Febriarni)
05 Februari 2019 21:25 WIB Jalu Rahman Dewantara & Kusnul Isti Qomah Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, PURWOREJO—Stasiun Wojo tengah bersolek untuk menyambut New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang rencananya beroperasi April 2019. Renovasi dan penambahan gedung baru serta perbaikan akses di stasiun yang berlokasi di Dusun Kuwojo, Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo itu sedang dikebut.

Tim pelaksana proyek renovasi Stasiun Wojo dari PT DH Sejahtera, Jonathan Tri Wibowo mengatakan pengerjaan dimulai pada Senin (28/1/2019). Sementara timnya ditargetkan untuk dapat menyelesaikan proyek dalam kurun waktu dua bulan.

“Kami ditargetkan untuk merampungkan ini selama dua bulan, berarti antara akhir Maret atau kemungkinan awal April sebelum [NYIA] beroperasi,” kata Jonathan di sela-sela pengerjaan renovasi Stasiun Wojo, Jumat (1/2/2019).

Jonathan memaparkan tiga bangunan di sebelah timur stasiun bakal dipugar untuk dialihfungsikan menjadi gudang, kafetaria dan kantor baru bagi UPT Resort Jalan Rel 6.2 Wojo. Dalam renovasi ini, dia mengaku, mendapat sejumlah kendala, antara lain terdapat dua bangunan yang sudah dalam kondisi rapuh terutama di bagian atap. Rapuhnya bangunan tak lepas dari usia gedung yang diperkirakan dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.

“Kami harus berhati-hati, soalnya itu bangunan tua, kalau informasi dari petugas stasiun bangunan itu berdiri sudah lama banget, lalu sempat difungsikan untuk mes karyawan, tapi sudah tidak digunakan sejak empat tahun terkahir,” ujar dia.

Selain ketiga bangunan itu, bagian peron yang saat ini hanya ada satu juga kemungkinan besar akan ditambah. Untuk kian mempercantik stasiun, sebuah taman juga bakal dibangun yang disertai dengan penambahan lahan parkir. “Fasilitas toilet baru juga dibangun untuk para penumpang dan petugas stasiun,” ujar Jonathan.

Tidak hanya fisik gedung, perbaikan juga menyasar akses dari stasiun ke jalan nasional Purworejo-Jogja yang berjarak sekitar 135 meter. Perbaikan ini diperlukan karena jalan itu masih berupa tanah berbatu. Ada kemungkinan jalan tersebut bakal diperlebar. Namun Jonathan tidak menjelaskan apakah jalan itu akan dilapisi material aspal atau beton.

Salah satu petugas Stasiun Wojo, Angga mengatakan proses renovasi stasiun seluruhnya di bawah tanggung jawab Kementerian Perhubungan. Namun dia belum bisa berkomentar banyak detail pembangunan seperti apa, tetapi yang pasti sisi bangunan dan akses diperbaiki. “Detailnya di Daop 6, kami kurang tahu persisnya seperti apa,” ucap Angga.

Guna menyambut pengoperasian minimum NYIA pada April 2019, PT KAI bakal mempercantik Stasiun Wojo yang akan difungsikan sebagai stasiun transit para penumpang dari dan ke NYIA.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Eko Budiyanto mengatakan stasiun yang berada di perbatasan antara Purworejo dan Kulonprogo itu saat ini hanya digunakan sebagai stasiun operasi. Tidak ada kereta yang berhenti di stasiun tersebut dan tidak ada aktivitas menaikkan ataupun menurunkan penumpang di stasiun tersebut.

“Nah untuk menyambut beroperasinya NYIA pada April nanti, Stasiun Wojo akan digunakan untuk transit para penumpang pesawat,” kata dia.

Dipilihnya Stasiun Wojo sebagai stasiun transit dari dan ke NYIA bukan tanpa alasan. Berdasarkan citra satelit, jarak dari stasiun itu ke bandara hanya berkisar 3,9 kilometer. Jika menggunakan kendaraan bermotor dapat ditempuh perjalanan selama 10 menit.

Dibandingkan dengan Stasiun Wates, Kulonprogo yang berjarak sekitar 18 Km dengan waktu tempuh 20 menit tentu Stasiun Wojo lebih dekat. Pun demikain dengan Stasiun Kutoarjo, Purworejo yang jaraknya justru lebih jauh yakni 33 Km dengan waktu tempuh 44 menit.

Sementara jika memfungsikan kembali Stasiun Kedungdang yang berlokasi di Dusun Trukan, Desa Kulur, Kecamatan Temon, akan membutuhkan waktu lama. Hal ini mengingat stasiun tersebut sudah lama tidak digunakan. Sehingga kondisi infrastruktur baik bangunan maupun jalan perlu perbaikan yang dimungkinkan memakan waktu tidak sebentar.

Pembangunan NYIA

Pembangunan NYIA terus dikebut untuk mengejar pengoperasian minimum pada April mendatang. PT Angkasa Pura (AP) I mencatat progres pembangunan untuk pengoperasian minimum pada April sudah 64,3%.

General Manager Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta selaku Juru Bicara Proyek Pembangunan Bandara Baru Internasional Yogyakarta (NYIA) Agus Pandu Purnama mengatakan progres 64,3% itu terdiri dari airside 11,78%, landside 37,9%, dan persiapan 14,6 %. “Sementara, persentasi terhadap full operation airside enam persen, landside 19 persen, dan persiapan tujuh persen. Total 32 persen,” kata dia, Jumat (1/2/2019).

Setelah siap untuk pengoperasian minimum, penerbangan internasional dari Bandara Internasional Adisutjipto bisa dipindah ke Kulonprogo. Ia mengatakan karena pertama kali akan melakukan layanan penerbangan internasional, jumlah penumpang yang akan dilayani masih belum banyak yakni kira-kira 600-an penumpang. Jumlah ini berkaca dari jumlah penumpang dari penerbangan yang ada di Adisutjipto.

Pandu pernah mengatakan ada alasan kenapa pemindahan penerbangan internasional harus disegerakan. “Kenapa ini harus April? Sebenarnya saya pinginnya Maret karena kebutuhan mendesak,":ujar dia.

Ia mengatakan kebutuhan mendesak karena Bandara Internasional Adisutjipto sudah kelebihan kapasitas. AP I mencatat hingga akhir 2018 ada 8,4 juta penumpang di Bandara Internasional Adisutjipto. “Padahal kapasitasnya 1,8 juta. Artinya sangat mendesak. Sangat ingin bandara Kulonprogo secepatnya dioperasikan untuk mengurangi overload,” jelas dia.

Ia mengatakan pada April 2019 seluruh penerbangan internasional dipindah ke Kulonprogo. Penerbangan tersebut dari maskapai penerbangan Silkair dan Airasia dengan penerbangan langsung ke Singapura dan Malaysia.