Selalu Kebanjiran Setiap Musim Hujan, SD Conegaran Menanti Solusi

Sejumlah guru dan karyawan membersihkan bekas banjir yang melanda SD Conegaran, Dusun Tambak, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Jumat (8/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
08 Februari 2019 23:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- SD Conegaran yang berlokasi di Dusun Tambak, Desa Triharjo, Kecamatan Wates Kulonprogo selalu kebanjiran setiap musim hujan. Banjir juga merencam sekolah tersebut, Jumat (8/2/2019) dini hari.

Pihak SD Conegaran sebenarnya sudah melaporkan hal ini ke otoritas terkait antara lain Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulonprogo dan Pemerintah Desa Triharjo. Namun sejauh ini belum ada solusi konkrit.

"Kami sebenarnya sudah melaporkan ke yang berwenang, pernah mengajukan untuk dapat dana alokasi khusus dari dinas [Disdikpora Kulonprogo], agar bisa relokasi atau dibikin apa gitu, tapi karena dananya untuk keperluan SD lain jadi kami ngikut aja," kata Kepala SD Conogaran Sugiyah, Jumat.

Pemerintah Desa Triharjo juga tidak dapat berbuat banyak. Dikatakan Sugiyah, peran pemdes sejauh ini ikut serta dalam kegiatan kerja bakti selokan sebagai upaya antisipasi terjadinya banjir.

Salah satu pengawas sekolah dari Disdikpora Kulonpogo, yang bertugas mengawasi SD Conegaran, Rosiyanti, mengatakan sejauh ini jawatannya masih melakukan pemantauan dan belum bisa memberi keterangan lebih terkait langkah kedepan untuk sekolah tersebut.

"Kami nanti akan memantau khusus bagian yang membidanginya, tapi tadi dari pihak sekolah juga sudah bagus untuk melaporkan langsung ke kami atas peristiwa ini," ucapnya.

Berdasarkan pengalaman Rosiyanti mengawasi sejumlah sekolah dengan kondisi serupa, dia mengimbau untuk sementara waktu agar perlengkapan sekolah untuk menunjang belajar, mengajar dan administrasi diletakkan di tempat yang tinggi. Kewaspadaan pihak sekolah saat hujan lebat turun juga diminta untuk lebih ditingkatkan.

"Jikalau hujan lebat dari pihak sekolah sudah ada yang berusaha melihat kondisi lingkungan dan lapor ke pemangku kepentingan," ujar Rosiyanti.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho saat diwawancara Harianjogja.com belum lama ini mengatakan sebanyak 22 desa menjadi wilayah rawan banjir. Seluruh desa ini berada di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Wates, Temon, Panjatan, Galur dan Lendah.

Secara rinci 22 desa tersebut yakni Desa Plumbon, Kalidengen, Paliyan, Kaligintung, Temon Wetan dan Temon Kulon di Kecamatan Temon. Kemudian untuk Kecamatan Wates meliputi Desa Karangwuni, Sogan, Kulwaru, Ngestiharjo dan Triharjo.

Sementara untuk Kecamatan Panjatan, yakni Desa Gotakan, Panjatan, Cerme, Kanoman, Krembangan dan Tayuban. Adapun di Kecamatan Galur meliputi Desa Brosot, Tirtorahayu, Kranggan dan Pandowan; serta Desa Wahyuharjo di Kecamatan Lendah.

Alasan puluhan desa ini menjadi wilayah langganan banjir lantaran sungai di desa yang bersangkutan mengalami pendangkalan. Pendangkalan ini terjadi lantaran faktor alam, yakni sedimentasi tanah. Akibatnya saat turun hujan, air mudah meluap hingga membanjiri permukiman warga.