Harga Cabai Anjlok, Petani Semprot Mati Tanaman

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman, membongkar tanaman cabai di lahannya di Desa Bugel, Senin (11/2/2019).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
12 Februari 2019 10:00 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Petani cabai di pesisir Kulonprogo memilih mematikan lahan karena harga cabai di pasaran yang terlampau anjlok.

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Sukarman, mengaku setelah harga yang terlampau anjlok pada Januari lalu, dirinya tidak lagi memanen cabai. Petani memilih tidak memanen cabai karena biaya panen tidak sebanding dengan harga jual.

“Daripada merugi, lebih baik tidak panen,” ujarnya, Senin (11/2/2019). Pasar lelang cabai yang sebelumnya digunakan petani cabai untuk penjualan kini sudah tidak buka lagi. Sukarman memilih menyemprotkan pembasmi gulma di lahannya guna mematikan tanaman cabai.

Selain itu, terkadang juga petani membongkar tanaman dan membakarnya. Selain karena panen cabai tidak lagi sebanding dengan harganya, langkah tersebut dia lakukan guna mengatur pola tanam. Setelah lahannya disemprot dan dibongkar, tanaman cabai itu diganti dengan melon dan semangka.

Selain itu, dengan mengubahnya menjadi tanaman melon dan semangka, Sukarman bisa mencegah adanya hama ketika lahan tersebut dialihkan. Lahannya yang dia tanami cabai seluas 1,5 hektare sudah panen sejak November 2018. Dirinya sudah 12 kali panen cabai dan kini tidak lagi memanennya. Biaya petik untuk satu orang dalam sehari mencapai Rp50.000.

Harga cabai terus menurun sejak Januari. “Terakhir harganya bisa sampai Rp3.500 per kilogram. Sebelumnya harga itu pada Desember 2018 masih sekitar Rp13.300 per kilogram,” ucap Sukarman. Harga paling tinggi yang pernah didapatkan petani cabai pesisir Kulonprogo yaitu pada dua tahun silam di kisaran harga Rp50.000 per kilogram.

Ia mengatakan biasanya petani mengirimkan cabainya itu untuk memenuhi kebutuhan di Jakarta dan sebagian Sumatra. Cabai dari Kulonprogo harganya jatuh karena di Jakarta stok cabai sudah melimpah. Sebagian dari stok cabai di Jakarta didapat dari impor cabai. Sukarman berharap pemerintah bisa memaksimalkan produk cabai lokal dan tidak mementingkan impor karena bisa membuat harga cabai terlampau rendah.

Kepala Seksi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Jayeng Purwadi mengungkapkan biasanya di musim hujan seperti ini, hasil panen di petani cabai kurang baik.

“Disperpangan memberikan bantuan berupa pengering cabai agar cabainya tidak busuk. Selain itu, tahun ini dinas akan memermanenkan satu tambahan pasar lelang cabai,” ucapnya. Di tahun lalu, jumlah produksi cabai mencapai sekitar 19.000 ton lalu produktivitasnya bisa sampai sembilan atau 10 ton per hektarenya.