SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Foto terjadinya guguran kubah lava dari Kaliadem, Sabtu (29/12/2018)./Ist- Gitsayanto via Twitter BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN--Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas sejauh 1.100 meter Senin (25/2/2019) siang. Ini luncuran awan panas kesekian kalinya sejak 29 Januari lalu.
Meski begitu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPTTKG) tidak mengubah status waspada Merapi karena aktivitas tersebut lumrah dan belum membahayakan penduduk.
Berdasarkan data seismik BPTTKG Jogja, guguran awan panas terjadi pada pukul 11.24 WIB dengan durasi 110 detik dengan jarak luncur 1100 m, dan arah ke Kali Gendol. "Awan panas tidak teramati dari CCTV karena cuaca berkabut," kata Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida, Senin.
Hanik menjelaskan awan panas yang terjadi di Gunung Merapi umumnya termasuk dalam awan panas guguran. Gaya berat kubah lava atau bagian dari kubah lava yang runtuh menentukan laju dari awan panas. Semakin besar volume yang runtuh akan semakin cepat laju awan panas dan semakin jauh jarak jangkaunya.
Aktivitas awan panas yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh ekstrusi magma langsung. Meski begitu, ada faktor juga yang diakibatkan material yang runtuh dari kubah. "Guguran kubah dan esktrusi magma ada sebagian yang meluncur ke luar ke Kaki Gendol, dan ada yang sebagian masuk ke kawah," jelasnya.
Intensitas guguran dapat menjadi indikasi peningkatan ekstrusi magma. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan kubah dan intensitas guguran yang terjadi. Umumnya kubah lava yang terbentuk di puncak berbentuk memanjang menjulur ke arah lerengnya. Orientasi dari kubah lava ini yang menentukan arah awanpanas yang akan terjadi.
"Kubah lava di puncak Merapi tidak tunggal dalam arti ada banyak kubah lava yang tidak runtuh dan kemudian menjadi bagian dari morfologi puncak gunung Merapi," jelasnya.
BPPTKG tidak bisa memastikan kapan awan panas kembali muncul. Meskipun awan panas kembali muncul yang daya yang lebih besar, namun ancamannya masih sama. Kondisi tersebut menjadi alasan BPPTKG hingga kini masih mempertahankan status Waspada Merapi.
Selain tetap melarang aktivitas warga di zona 3 km dari puncak Merapi, Hanik juga mengingatkan agar masyarakat yang tinggal di alur Kali Gendol agar meningkatkan kewaspadaan. Termasuk mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.
"Kami pertahankan karena status sebagai cara untuk melindungi masyarakat. Status didasarkan pada ancaman bahaya apakah membahayakan penduduk atau tidak. Kami akan terus mengevaluasi status sesuai dengan perkembangan aktivitas Merapi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
HP RAM 8 GB hingga 12 GB makin terjangkau pada 2026. Simak daftar harga dan pilihan terbaik sesuai kebutuhan dan anggaran.
Smartphone brain bukan istilah medis resmi. Dokter menjelaskan kaitannya dengan fokus, tidur, dan sakit kepala.
Apple menghadapi ganti rugi US$5,7 miliar atau sekitar Rp102,6 triliun setelah juri AS menyatakan Taptic Engine melanggar dua paten.
Bau bensin masuk kabin mobil jangan diabaikan. Kenali 10 penyebabnya, dari tutup tangki hingga kebocoran fuel pump.
Riset McKinsey memproyeksikan 41 juta permintaan pekerjaan hingga 2035, meski otomatisasi dapat menekan 36 juta posisi di AS.