Kedua Kalinya Rumah Tertimpa Longsor, Suryanto Enggan Direlokasi

Kondisi rumah Suryanto yang jebol terkena material longsor. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
26 Februari 2019 05:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Sebuah rumah rusak tertimpa material tebing longsor di Dusun Depok, Desa Wonolelo, Kecamatan Pleret, Bantul, Minggu (24/2/2019). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian material ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Rumah yang rusak adalah milik Suryanto, 65, di Dusun Depok RT03. Dinding bangunan bagian dapurnya jebol sekitar 2x1 meter akibat tertimpa material longsor berupa tanah, batu, dan akar pohon.

"Ini masih proses pembersihan tanah bersama warga dan relawan bencana," kata Subadi, 35, disela-sela kerja bakti, Senin (25/2/2019).

Subadi merupakan anak ketiga dari Suryanto. Proses kerja bakti evakuasi tanah longsor juga melibatkan kepolisian dan TNI. Menurut Subadi, longsor yang menimpa rumah orang tuanya tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB atau setelah diguyur hujan lebih dari dua jam.

Saat kejadian, kata Subadi tidak ada orang di dalam rumah, karena bapaknya sedang mengikuti pengajian di dusun tetangga. Sementara ibunya Paiyem, 60, sedang membantu di rumah tetangga yang sedang menggelar hajatan. Setelah kejadian, kedua orang tuanya tidak berani tidur di dalam rumah karena kondisi longsor masih terjadi.

Namun sehari kemudian setelah proses evakuasi material, mereka kembali ke rumah. Menurut Subadi, rumah orang tuanya itu memang rawan terkena longsor. Setidaknya sejak tiga tahun terakhir rumah yang berukuran sekitar 10x10 meter itu tertimpa material longsor.

Material longsor dari bukit Puntukrejo itu awalnya mengenai kamar, lalu kini mengenai bangunan bagian dapur hingga jebol. "Sebenarnya sejak tiga tahun kamar sudah tidak ditempati karena rawan longsor. Tidurnya pindah di ruang tengah," ujar Subadi.

Subadi dan orang tuanya menyadari rumahnya yang berlokasi di bawah bukit setinggi sekitar 7 meter itu rawan terkena longsor. Namun pihaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali menempati rumah tersebut karena tidak memiliki biaya untuk membangun rumah. Sebenarnya Suryanto masih memiliki lahan di belakang rumahnya yang sekarang yang lebih aman, "Uang untuk membangunnya tidak ada," kata dia.

Suryanto dan Paiyem termasuk keluarga yang tidak mampu. Rumahnya sebagian masih berlantai tanah, sebagian bangunan masih berupa kayu di bagian dapur. Bangunan tembok hanya di ruang tengah, kamar, dan ruang tamu. Bagian atap terbuat dari asbes dan genteng.

Suryanto sejak lima tahun lalu tidak bekerja karena sakit, sebagian tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Ia juga menderita diabetes. Sementara istrinya Paiyem biasa membantu di rumah tetangga dan mencarikan rumput untuk sapi milik tetangga. Keluarga ini tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

Sementara Kepala Desa Wonolelo, Akhmat Furqon mengaku sudah mengunjungi rumah Suryanto. Ia mengatakan sudah membujuk korban untuk pindah rumah karena rumahnya sudah tiga kali tertimpa material longsoran, "Yang bersangkutan tidak mau, bahkan diminta tinggal sama anak-anaknya juga tidak mau," kata dia.

Padahal, menurut Furqon jika korban mau masih ada lahan kosong yang bisa menampung 10 kepala keluarga (KK) lahan khusus untuk relokasi warga yang rumahnya terancam longsor. Namun tidak semua warga mau direlokasi.

Lebih lanjut, Furqon mengatakan di Desanya hampir semua wilayah rawan longsor karena kawasan perbukitan sehingga jika terkena hujan dengan intensitas tinggi menjadi rawan longsor. Berdasarkan pendataan masih ada 600 KK yang rawan terkena longsor.