Jembatan Garuda Rejosari Dibangun, Warga Tak Lagi Bergantung Crossway
Pembangunan Jembatan Garuda di atas Kali Oya, Rejosari, Semin, disambut antusias warga karena mempermudah akses dan lebih aman saat musim hujan.
Ilustrasi Minapadi/JIBI
Harianjogja.com, WONOSARI – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mulai mengembangkan padi jenis hibrida. Padi ini diprediksi dapat meningkatkan produktivitas pertanian hingga 13 ton per hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, padi hibrida yang dikembangkan merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian. Untuk tahap awal, bantuan diberikan kepada kelompok tani di 15 kecamatan. Total luas tanam padi hibrida mencapai 4.000 ha. “Sudah ditanam pada masa tanam kesatu. Untuk saat ini, padi hibrida sudah mulai memasui masa panen,” kata Raharjo kepada wartawan, Senin (11/3/2019).
Dia menjelaskan, padi hibrida yang ditanam ada beberapa jenis mulai dari arize dan hibrida intani 602 dan intani 301. Berdasarkan hasil dari penelitian, padi hibrida sangat cocok ditanam di lahan yang kering, seperti di Gunungkidul. Selain itu, dari hasi juga lebih tinggi dibandingkan dengan jenis padi yang biasa.
Sebagai gambaran, sambung Raharjo, untuk padi varietas ciherang, panen yang dihasilkan bisa mencapai delapan ton. Sementara untuk jenis hibdrida bisa mencapai sepuluh ton, bahkan untuk jenis arize yang ditanam di Dusun Kutugan, Desa Pundungsari bisa mencapai 13 ton per hektare. “Sudah bisa dibuktikan dan padi hibrida yang ditanam akan terus dikembangkan,” kata mantan Kepala Bidang Binda Produksi ini.
Menurut Raharjo, dengan hasil panen yang lebih tinggi dapat memberikan harapan bagi para petani untuk meningkatkan kesejahteraan. “Saya yakin dengan panen yang maksimal, maka keuntungan yang didapatkan oleh petani bisa lebih besar lagi. Jadi, upaya peningkatan kesejahteraan dapat diwujudkan,” katanya.
Sementara itu, salah seorang petani di Dusun Lemahbang, Desa Candirejo, Semin, Sunardi mengaku belum mengetahui adanya padi jenis hibrida. Menurut dia, padi yang ditanam saat ini merupakan jenis yang saat ini banyak ditemui di pasaran. “Saya masih menanam jenis padi yang lama karena mudah ditemukan di pasaran,” katanya.
Dia pun berharap keberadaan jenis padi hibrida dapat disosialisasikan ke petani sehingga pilihan terkait dengan padi yang akan ditanam bisa lebih banyak lagi. “Ya kalau memang bisa meningkatkan produktivitas padi, maka saya tertarik menanam jenis padi hibrida,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan Jembatan Garuda di atas Kali Oya, Rejosari, Semin, disambut antusias warga karena mempermudah akses dan lebih aman saat musim hujan.
Nadeo Argawinata menegaskan Timnas Indonesia menargetkan gelar juara ASEAN Hyundai Cup 2026 untuk mengakhiri penantian 30 tahun.
Kaesang Pangarep menyatakan siap maju sebagai caleg DPR di Dapil V Jawa Tengah pada Pemilu 2029. PSI menyiapkan konsolidasi hingga tingkat RT.
Tiga kandang ayam di Kedawung, Sragen, terbakar selama 4,5 jam. Sebanyak 54.000 ekor ayam mati, satu penjaga terluka, kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah.
Harga pangan nasional hari ini, telur ayam ras Rp29.600 per kg, bawang merah Rp42.150 per kg, dan cabai rawit merah Rp54.400 per kg.
Menpar Widiyanti menargetkan Geopark Ijen mempertahankan predikat green card UNESCO melalui penguatan pengelolaan dan revalidasi pada Agustus 2026.