Ini Dia Sarung Tangan Kulit Karya Pemuda Asal Kulonprogo…

Nanda Krisna sedang membuat sarung tangan kulit di rumahnya di wilayah Terbah, Kelurahan Wates, Kabupaten Kulonprogo, Jumat (15/3/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara.
23 Maret 2019 13:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Di wilayah Terbah, Kelurahan Wates, Kabupaten Kulonprogo terdapat Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pembuatan sarung tangan berbahan kulit sapi asli. Sekali produksi, UMKM ini mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah dan telah memiliki konsumen mancanegara.

Pemilik UMKM itu ialah Nanda Krisna, 27. Pria berambut ikal tersebut memulai usahanya sejak 2016 silam. Ide awalnya dari keresahannya yang sukar menemukan sarung tangan kulit berkualitas untuk berkendara. Nanda sendiri merupakan penghobi touring. Sehingga memerlukan sarung tangan tangguh yang kuat menghadapi segala cuaca.

Berangkat dari situ, Nanda lantas berguru ke sejumlah perajin kulit di Yogyakarta. Hasilnya, 200 pasang sarung tangan berhasil ia buat. Namun dalam pembuatannya saat itu belum ia lakukan secara mandiri. Kala itu ia hanya sekadar membuat pola, sementara yang menjahit tetap penjahit ahli. Tak dinyana, produk pertamanya itu ludes terjual dalam jangka waktu sekitar empat bulan.

"Setelah produksi pertama terjual, saya mulai produksi sendiri sepenuhnya," kata Nanda saat ditemui di rumahnya yang dijadikan sebagai tempat produksi sarung tangan kulit di Terbah, Kelurahan Wates, Kecamatan Wates, Jumat (15/3/2019).

Produk sarang tangan tersebut kemudian ia beri nama Wintrough Speed atau kemenangan memerlukan kecepatan. Nama itu biasa disingkat WTS, sebuah inisial dari daerah asalnya, yakni Kota Wates. Saat ini, dalam sekali produksi, Nanda mampu menghasilkan 50 hingga 80 pasang sarung tangan. Harga yang dipatok mulai dari Rp350.000, sampai  Rp400.000 per pasang.

Harga tersebut tergolong mahal. Namun Nanda punya alasan tersendiri mematok harga setinggi itu. Pertama bahan baku yang digunakan merupakan kulit sapi asli yang didatangkan langsung dari Jawa Timur. Kedua proses pembuatan sarung tangan ini rumit karena masih dijahit manual, sehingga memakan waktu yang lama. Kondisi cuaca turut mempengaruhi lama tidaknya produksi sarung tangan tersebut.

"Kalau sering mendung seperti sekarang ini bisa lebih lama lagi produksi. Penjemuran yang kurang maksimal bisa berpengaruh terhadap hasil akhir produknya nanti," ujarnya. 

Meski proses produksi memakan waktu lama dan harga yang tinggi nyatanya tidak mengurangi minat konsumen untuk membeli sarung tangan karya Nanda. Menurutnya, banyak pembeli yang puas dengan sarung tangan buatannya. Bahkan tak sedikit yang telah menjadi pelanggan dan kembali memasang sarung tangan kulit tersebut.

Hingga saat ini, produk sarung tangan kulit buatan Nanda masih dibuat dengan model full finger atau menutup seluruh jari. Produk ini juga dibuat dengan beragam pilihan warna, di antaranya hitam, hijau, merah, kuning serta coklat. Saat ini, lanjutnya warna yang paling banyak diminati ialah warna kuning, merah dan coklat.

Dikatakan Nanda, produk buatannya diminati konsumen dari sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung dan Kalimantan. Bahkan sejumlah pesanan datang dari mancanegara, seperti Italia dan Prancis. Saat ini, setiap sekali produksi Nanda bisa meraup keuntungan sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta.

Salah seorang peminat sarung tangan kulit karya Nanda, Bambang, mengaku memilih menggunakan produk Wintrough Speed lantaran produk ini memiliki keunikan tersendiri mengingat banyaknya varian warna. Ia sendiri telah membeli sarung tangan kulit karya Nanda dengan warna merah. Warna tersebut menurutnya akan terlihat bagus jika mulai memudar sehingga nampak goresan kulit dan terkesan klasik.

"Untuk kualitasnya bagus. Masih tergolong murah dengan kualitas yang seperti itu menurut saya. Saya memilih sarung tangan kulit juga karena ada motif yang lama-kelamaan akan muncul. Itu unik," ujarnya.