Problem TPST Piyungan: Pengelola Tak Tegas, Warga Blokade Jalan Masuk

Sejumlah warga berjaga di pintu masuk TPST Piyungan, Minggu (24/3/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
25 Maret 2019 06:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianujogja.com, BANTUL—Proses pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, kembali terhenti akibat adanya blokade pintu masuk yang dilakukan sejumlah warga, Minggu (24/3/2019). Dalam aksi yang digelar, warga meminta ketegasan pengelola TPST Piyungan agar memperbaiki manajemen pengelolaan sampah.

"Kami memblokade TPST Piyungan sampai ada solusi pengelolaan sampah yang baik supaya tidak mengganggu warga," kata Suyarto, salah satu warga saat ditemui di lokasi, Minggu.

Suyarto mengatakan penutupan jalan masuk ke TPST Piyungan tak hanya dilakukan oleh warga, tetapi juga operator TPST Piyungan karena alat berat tidak bisa difungsikan. Antrean truk sampah terjadi sejak Sabtu (23/3/2019) sore. Bahkan antrean terjadi hingga Sabtu tengah malam, melebihi jam operasional yang sudah ditetapkan yakni pukul 17.00 WIB.

Akibat adanya antrean truk pengangkut sampah, akses warga terganggu. Kondisi tersebut ditambah jalan menuju TPST Piyungan yang rusak sehingga banyak genangan air hujan bercampur sampah yang menimbulkan bau tidak sedap.

Warga lain, Gombloh, menambahkan sebenarnya keinginan warga tidak muluk-muluk, yakni hanya ingin pengelolaan sampah di TPST Piyungan yang beroperasi sejak 1995 dikelola dengan baik. Dia melihat persoalan TPST Piyungan selalu terulang dan penyebabnya juga sama, yakni kondisi TPST yang melebihi kapasitas. Kondisi itu diperrparah dengan sistem pengelolaan yang menurutnya kurang serius. Selama ini, kata dia, warga masih sabar dengan menutup akses untuk sementara waktu selama alat berat rusak,  karena jika dipaksakan sampah yang berserakan di jalan semakin banyak. Dia meminta cara pembuangan sampah seharusnya dilakukan di tengah agar tumpukan sampah tidak berserakan sampai ke jalan bahkan ke rumah warga yang ada di sekitarnya. Warga, menurut Gombloh, sudah mengingatkan berulang kali tetapi persoalan selalu terulang. "Kami hanya dijanjikan ada perbaikan jalan dan perbaikan talut, tetapi sampai sekarang cuma janji tidak ada realisasi," ujar Gombloh.

Ia meminta pengelolaan sampah di TPST Piyungan dilakukan sebaik mungkin agar tidak mengganggu warga. Sejauh ini diakuinya warga sudah berusaha berdamai dengan kondisi TPST Piyungan. Bahkan jalan sekitar TPST pun memanfaatkan jalan warga yang sudah ada. Oleh karena itu Gombloh berharap kenyamanan warga sekitar TPST Piyungan juga harus diperhatikan.

Menurut informasi dari sejumlah operator alat berat, area TPST Piyungan masih cukup menampung sampah sampai beberapa tahun ke depan jika dikelola dengan baik. Persoalannya, kewenangan pengelolaan sampah TPST Piyungan yang sering beralih sehingga manajemen pengelolaan tidak jelas.

Staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPST Piyungan, Sudras Yuli, mengaku operasional TPST Piyungan dihentikan sementara karena alat berat rusak. "Alat berat hanya ada dua, satu buldoser dan satu backhoe. Yang satu rusak dan satunya masih diperbaiki," kata dia. Yuli tidak bisa memastikan sampai kapan alat berat bisa diperasikan kembali.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY, Sutarto, sebelumnya mengatakan jajarannya belum bisa berbuat banyak terkait dengan persoalan yang terjadi di TPST Piyungan karena tahun ini hanya menjalankan program yang sudah direncanakan tahun sebelumnya. Perencanaan TPST Piyungan tahun lalu dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIY. Untuk tahun ini pengelolaan dilimpahkan ke DLH DIY. Meski demikian, menurut Sutarto, jajarannya berupaya semaksimal mungkin mengelola TPST Piyungan yang sudah melebihi kapasitas tersebut. Beberapa upaya yang akan dilakukan di antaranya memperpanjang jalur dermaga untuk truk agar pembongkaran truk tidak lagi di pinggir TPST yang memberatkan proses kerja alat berat. "Dermaga diperpanjang sampai ke tengah sehingga truk saat bongkar sampah bisa sampai ke tengah," kata dia.

Selama ini, sampah berserakan sampai jalan karena pembongkaran sampah terlalu ke pinggir, sementara daya kerja alat berat terbatas. Hanya satu alat berat yang benar-benar berfungsi setiap hari, sementara satu lagi sering rusak.