Advertisement

Tua Tua Keladi, Makin Tua Makin Rajin Ngaji

Jalu Rahman Dewantara
Sabtu, 06 April 2019 - 15:37 WIB
Budi Cahyana
Tua Tua Keladi, Makin Tua Makin Rajin Ngaji Salah satu lansia peserta wisuda Khatam Al-Qur'an di Masjid At-Taubat, Wates pada Rabu (3/4/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Ibu-ibu berusia lanjut di salah satu RW di Kulonprogo benar-benar membuktikan ungkapan menuntut ilmu tak kenal usia. Sebab, mereka tetap semangat belajar membaca Alquran meski tak lagi muda, hingga akhirnya bisa wisuda. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harian Jogja Jalu Rahman Dewantara.

Mata Mujiyem menerawang jauh ke belakang membayangkan saat tubuhnya masih segar bugar. Kala itu akibat kesibukan duniawi, perempuan yang kini berumur 63 tahun itu melupakan kegiatan keagamaan. Hanya salat lima waktu yang masih teguh ia jalankan,  sedangkan membaca Alquran dia abaikan.

"Waktu kecil saya belum intens belajar Alquran. Hanya sesekali ikut aja, terus pas kerja jadi guru, makin sibuk jadinya belum ada waktu untuk membaca kitab," kata Mujiyem kepada Harian Jogja, Rabu (3/4/2019).

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Kekurangan itu membuatnya resah. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Hingga akhirnya, setelah pensiun sebagai guru pada 2016 lalu, ia bertekad membayar utang dengan mengikuti sebuah kelompok pengajian yang juga sekaligus mengajarkan baca Alquran.

Kelompok itu bernama Pengajian Lansia Ngudi Saras Lestari. Jemaahnya mayoritas perempuan berusia uzur seperti Mujiyem. Namun ada juga yang lebih muda, di kisaran umur 31 tahun. Para jemaah ini rata-rata  bermukim di RW 03, eks Dusun Terbah, Kelurahan Wates, Kecamatan Wates, Kulonprogo.

Kelompok ini rutin mengadakan kegiatan mengaji bareng di Masjid At-Taubat RW 03. Dalam satu pekan kegiatan belajar membaca Alquran dilakukan hingga tiga kali seusai salat Maghrib hingga Isya berkumandang.

"Saya mulai dari iqra satu. Kadang belajarnya di masjid, tapi juga sering di rumah saya, kalau ditotal sebenarnya bisa seminggu full, karena kegiatan [belajar mengaji] di rumah itu bisa sampai tiga kali ditambah di masjid tiga kali juga," ujar Mujiyem.

Setelah mulai mempelajari Alquran ada perubahan yang dialami Mujiyem. "Saya jadi lebih tenang," ungkapnya.

Utang Mujiyem terbayar. Bahkan saat ini ia sudah masuk tahap menghafal Alquran, meski baru bisa beberapa juz saja.

Advertisement

Capaian Mujiyem itu tak lepas dari jasa Rusmini. Ibu rumah tangga tersebut merupakan salah satu guru mengaji yang intens mengajari Mujiyem dan anggota Pengajian Lansia Ngudi Saras Lestari lainnya.

Sebagai pembimbing, Rusmini mengaku mengajari mengaji para lansia susah-susah gampang.

Kendala yang dihadapi Rusmini karena siswanya tak lagi muda, daya ingat mereka cenderung lebih lemah. Sehingga banyak dari mereka kesulitan menghafal tanda baca Alquran. Rata-rata setiap lansia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga empat bulan untuk bisa lancar membaca Alquran.

Advertisement

"Lamanya itu tergantung juga dari waktu belajar sehari berapa kali. Kalau makin sering pasti makin cepat," kata perempuan berusia 47 tahun tersebut.

Rintangan itu tidak menjadi beban bagi Rusmini. Sebab menurutnya, para lansia ini memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Secara tak langsung hal itu turut menjadi penyemangatnya dalam mengajar. "Saya malah semangat, sejak dulu saya memang sudah mengajar mengaji anak-anak. Terus saya berpikir, kenapa tidak sekalian lansia, ternyata semuanya bisa," kata dia.

Jerih payah Rusmini dan sejumlah guru mengaji di kelompok pengajian tersebut akhirnya membuahkan hasil. Mujiyem dan teman-teman seusianya berhak mengikuti wisuda yang digelar kelompok pengajian tersebut. Sebelum diwisuda, para peserta harus tamat tahapan belajar membaca Alquran mulai dari Iqra jilid I. Kemudian di sesi akhir diuji oleh guru mengaji. "Alhamdulillah berhasil semua," kata Rusmini.

Upacara kelulusan itu bertajuk Wisuda Iqro Santri TQL (Taman Alquran Lansia). Kegiatannya dilangsungkan di halaman kompleks Masjid At-Taubat, Rabu (3/4) pagi. Konsep wisuda ini seperti upacara kelulusan sarjana pada umumnya. Atribut berupa jubah komplit berikut topi toga dikenakan Mujiyem beserta 88 jemaah lainnya. Para peserta juga diberi sertifikat sebagai tanda telah lulus mengkhatamkan Alquran.

Advertisement

Di sela-sela acara dilaksanakan penyerahan penghargaan untuk dua orang lansia. Satu orang lansia berusia 80 tahun menerima penghargaan wisudawati tertua, sedangkan satu orang lainnya menerima penghargaan sebagai peserta terbaik selama proses belajar. "Kelompok ini sebenarnya sudah tiga tahun berdiri. Tapi baru kali ini dilaksanakan wisuda. Karena memang proses belajarnya lama," ujar Anik Hudijati selaku Ketua Kelompok Pengajian Ngudi Saras Lestari.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jokowi Geram Indonesia Terus Impor Aspal

News
| Jum'at, 30 September 2022, 08:37 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement