Muktamar Ke-35 NU Tentukan Mekanisme Pilih Ketum PBNU Lewat Voting
Muktamar Ke-35 NU akan menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU lewat voting tertutup setelah dua opsi belum menemui kesepakatan.
Para siswa dikumpulkan di lapangan dalam simulasi tanggap bencana di SMA Muha Jogja, Jumat (26/4/2019). /Ist-Muha Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Tepat pukul 09.00 WIB sirine berbunyi, ratusan siswa kelas X dan XI SMA Muhammadiyah 2 (Muha) Jogja berlarian menyelamatkan diri. Mereka yang berada di lantai atas pun segera turun melewati jalur evakuasi yang sudah ditentukan. Pagi itu, Kamis (26/4/2019) merupakan kegiatan simulasi bencana gempa di sekolah tersebut dalam rangka memperingati hari kesiapsiagaan bencana.
Kepala SMA Muha Jogja Slamet Purwo mengatakan, kejadian gempa 2006 yang menimpa wilayah DIY menjadi pelajaran tersendiri bagi seluruh lingkungan sekolahnya. Saat peristiwa itu terjadi bangunan SMA Muha rusak parah, beruntung peristiwa gempa itu terjadi pukul 06.00 WIB. Oleh karena itu, saat ini pihaknya mengedepankan mitigasi bencana gempa.
“Kami sudah membuat jalur evakuasi, jadi ketika anak berada di ruangan A mereka harus berlari kemana untuk bisa sampai ke titik kumpul di lapangan, itu sudah ada petunjuknya. Jalur ini kami susun melalui berbagai panduan dan referensi,” terangnya dalam rilisnya Jumat (26/4/2019).
Tak hanya itu, seluruh bangunan sekolahnya sudah direncanakan dengan konstruksi ramah gempa. Di sisi lain, mitigasi bencana juga sudah lekat dengan kurikulum terutama mata pelajaran Geografi. Sehingga semua siswa dan warga sekolah selalu dalam keadaan siap mengantisipasi akan bencana. “Ketika semua sistem sudah berusaha kami siapkan untuk mitigasi itu, usaha selanjutnya ada berdoa, siswa kami bimbing, karena kita harus yakin itu,” ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu deteksi gempa secara alami yang berusaha ia muncul di lingkungan sekolah adalah membuat kolam ikan dengan memanfaatkan air wudlu dari Masjid SMA Muha. Kolam tersebut kemudian diisi dengan ikan lele. Karena menurut penelitian bahwa sejumlah hewan salah satunya ikan lele bisa menjadi penanda alam untuk mendeteksi gempa dengan adanya peningkatan aktivitas hewan tersebut. “Karena lele itu selalu berada di dasar kola, dia baru naik ketika makan, jadi ini bisa menjadi seismograf alami,” katanya.
Humas SMA Muha Jogja Fatma Taufiyanti menambahkan dalam simulasi itu sebagian besar para siswa tidak diberitahu sebelumnya. Sehingga mereka banyak yang bertanya suara sirine tersebut, namun para guru di dalam kelas meminta semua siswa untuk keluar ruangan dan menyelamatkan diri menuju titik kumpul. “Waktu kami di kelas banyak yang bertanya ini ada apa bu, saya sampaikan agar keluar kelas menyelamatkan diri,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya tim Palang merah Remaja (PMR) SMA Muha Jogja turut dilibatkan sebagai tim medis untuk membantu para korban. “Kami simulasikan ada yang patah tulang tertimpa bangunan, jadi kami pakai mobil sekolah sebagai pengganti ambulan, kemudian tim PMR juga disiapkan sekaligus melatih kesigapannya,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Muktamar Ke-35 NU akan menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU lewat voting tertutup setelah dua opsi belum menemui kesepakatan.
Konservasi di Indonesia dinilai masih meminggirkan masyarakat adat. Isu ini dibahas dalam Peoples’ Conservation Summit 2026 di Jogja.
TNI AD menjelaskan kondisi jembatan gantung Pongpet di Pangandaran setelah tali sling penahan jembatan terlepas usai peresmian.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meninjau jalan rusak sekaligus mendorong percepatan perbaikan dan penyerapan anggaran.
Industri alas kaki kontraksi pada Agustus 2026. Kemenperin mengungkap penyebabnya, mulai dari permintaan ekspor hingga konsumsi domestik yang melambat.
Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mendorong Festival Babad Siti Kemantren tidak berhenti sebagai kegiatan pelestarian sejarah, tetapi berkembang menjadi penggerak