Prevalensi Penderita Kanker di DIY Lebih Tinggi dari Rata-Rata Nasional

Ilustrasi penyintas kanker - Reuters/Jim Bourg
27 April 2019 06:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2018 DIY memiliki prevalensi penderita kanker cukup tinggi yakni 4,1% dengan total 14.596 pasien. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding prevalensi nasional yang berada di angka 1,4% dengan total 347.729 pasien.

Dari sejumlah penyakit yang menyerang, menurut survei Global Cancer Observatory (Globocan), kanker darah menempati urutan kesembilan dalam jumlah kasus terbesar di Indonesia. Leukimia menjadi salah satu yang paling banyak ditemui, menyerang sekitar 1.213 orang, 40% di antaranya anak-anak. Hal ini disampaikan Konsultan Senior Hematologi Parkway Cancer Center (PCC) Singapura, Collin Phipps Dion, kepada wartawan di Marriot Hotel, Kamis (25/4/2019).

Ia menjelaskan leukimia merupakan salah satu jenis kanker darah yang paling sering ditemui. Selain itu, masih ada lebih dari 90 jenis kanker darah lagi yakni limfoma dan myeloma.

Ia mengatakan kanker darah sangat sulit dideteksi. Penyakit ini bisa didiagnosis pada pasien tanpa gejala apapun. Kanker darah juga tidak dipengaruhi faktor keturunan, sehingga memungkinkan semua orang untuk terserang penyakit ini. “Meski demikian, orang yang pernah menjalani kemoterapi berpotensi lebih besar untuk terserang kanker darah,” kata Collin.

Tapi ada juga beberapa pasien yang mengalami gejala seperti demam jangka panjang, kelelahan, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan signifikan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Ia menyarankan jika kita mengalami gejala ini, segera konsultasikan dengan dokter.

Sebagai upaya perawatan, transplantasi sumsum tulang adalah yang paling efektif. Transplantasi ini mengambil sel-sel sumsum tulang yang sehat dari donor dan memasukkannya ke pasien.  Ia mencontohkan transplantasi ini seperti dalam kasus Ani Yudhoyono yang menderita kanker darah dan mendapat transplantasi sumsum tulang belakang dari adiknya, Edhie Wibowo.

Manajer dan Ahli Diet PCC, Fahma Sunarja, mengatakan kanker darah tidak berhubungan langsung dengan gaya hidup. Menurutnya, gaya hidup yang tidak sehat berpotensi menimbulkan penyakit tetapi bukan kanker darah. “Merokok jelas meningkatkan potensi kanker paru-paru, tapi tidak demikian dengan kanker darah,” katanya.

Ia menyatakan belum ada penelitian komprehensif yang menunjukkan hubungan langsung antara gaya hidup dengan kanker darah. Ia melihat kanker darah dapat terjadi pada siapa saja. “Yang perlu diketahui adalah bagaimana gejalanya dan apa penanganan yang tepat,” katanya.