Keluarga Ini Rela Bolak-Balik Jogja-Jakarta demi Merasakan Pendaratan Perdana di Bandara Internasional Yogyakarta

Penerbangan komersial pertama di Bandara Internasional Yogyakarta, Senin (6/5/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
07 Mei 2019 17:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) sudah beroperasi sejak Senin (6/5/2019) kemarin. Bandara anyar ini bikin banyak orang penasaran. Bahkan, ada yang membeli tiket pesawat hanya agar bisa merasakan penerbangan perdana di YIA. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jalu Rahman Dewantara.

Wahyu Wijanarko, 35, berjalan tenang menuju terminal kedatangan, seusai pesawat yang ia tumpangi bersama sang istri dan ketiga anaknya mendarat di landasan pacu YIA, Senin siang. Dalam terminal, mereka disambut tarian tradisional kontemporer yang dibawakan sembilan muda mudi berkostum merah. Wahyu lantas mengeluarkan telepon genggamnya untuk memotret lenggak-lenggok para penari.

Wahyu dan keluarganya adalah bagian dari 96 penumpang pesawat Citilink berkode QG 132 HLP-YIA. Pesawat Airbus A320 itu menjadi angkutan udara pertama yang mendarat di YIA. Pesawat ini sebelumnya menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

“Tadi berangkat sekitar pukul 11.20 WIB, syukurlah bisa sampai sini, pendaratannya mulus, tidak terasa ada pengereman,” kata Wahyu kepada sejumlah awak media di terminal kedatangan YIA.

Dia membeli tiket rute Halim-YIA, hanya demi bisa menjadi penumpang pertama yang merasakan bandara baru tersebut. Wahyu merasa bangga karena Kulonprogo, kabupaten tempat dia lahir, mampu memiliki bandara super megah.

“Kemarin [Minggu 5/5/2019] kami berangkat dari Adisutjipto ke Jakarta, lalu siangnya balik lagi ke Jogja tapi mendarat di sini [YIA], ya cuma pengin tahu aja,” kata lelaki yang lahir di Kecamatan Lendah, Kulonprogo tersebut.

Menurur dia, YIA bisa menjadi pilihan altertatif layanan penerbangan bagi warga DIY dan Jawa Tengah bagian selatan.

“Kami ini dari Kulonprogo, istri saya lahir di Sentolo, dan sekarang kami sekeluarga tinggal di Sleman, sah-sah saja kalau rasa bangga sebagai orang Kulonprogo itu muncul,” ucapnya.

Selain Wahyu, rasa penasaran terhadap YIA dirasakan I Gusti Agung Premandana. Pria asal Bali ini datang ke Jogja untuk merasakan penerbangan perdana dari YIA ke Halim Perdanakusuma. Agung mempunyai motivasi lain. Sebagai Youtuber, ia ingin me-review kondisi bandara itu dalam operasional minimum.

Bahkan dia memulainya dengan menjajal moda transportasi pendukung, yakni Kereta Api Bandara. Ia berangkat dari Stasiun Tugu dan berhenti di Stasiun Wojo, Purworejo. Menurutnya keberadaan kereta bandara sangat membantu operasional YIA. “Adanya Kereta Api Bandara ini sangat bagus, karena meski jaraknya jauh tapi dengan harga Rp15.000, cukup sepadan,” ucapnya.

Diganti Mendadak

Berbeda dengan Wahyu dan Agung, yang memang memilih YIA sebagai bandara tujuan, Ida Hartanto, 40, justru sebaliknya. Awalnya Ida bersama kakak dan anaknya dijadwalkan bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat Citilink dari Bandara Adisutjipto. Mereka bertiga berada di Jogja untuk menemani anak perempuannya mengikuti tes masuk universitas.

“Kami sudah tiga hari di Jogja, nah kemarin sore atau sehari pas mau pulang, kami dikabarkan kalau lokasinya [keberangkatan] dipindah ke YIA,” ucapnya kepada awak media saat ditemui di pintu masuk terminal keberangkatan YIA.

Kabar tersebut sempat membuatnya panik. Sebab perempuan asal Bogor, Jawa Barat ini sudah melakukan persiapan termasuk memilih moda transportasi yang akan digunakan menuju Bandara Adisucipto dari tempatnya menginap di sebuah hotel di Kota Jogja. “Sempat bingung, tapi alhamdullah ada saudara yang mau mengantar ke sini [YIA], dan ternyata aksesnya mudah meski harus menempuh waktu perjalanan yang lebih lama,” ujarnya.

Dari hotelnya menginap ke Bandara Adisutjipto hanya memakan waktu kurang dari 30 menit, dan menuju YIA bisa mencapai hingga 90 menit. Kendati begitu, ia bisa memakluminya. Menurut Ida bandara tak harus dekat dengan pusat kota, apalagi jika bandara tersebut sekelas internasional.

Dibandingkan dengan akses menuju Adisutjipto, lanjutnya, jalur menuju YIA jauh lebih enak lantaran tidak macet. “Kalau di Adisutjipto itu macetnya minta ampun. Kalau ke sini mah tadi lengang. Memang sih tetap lebih lama, tapi alhamdullilah di sini justru kami bisa merasakan bandara baru, apalagi tadi saya lihat meski masih proses pembangunan hasilnya sudah bagus,” katanya.

Aizar Vesa, 16, juga demikian. Bersama sang ibu, remaja ini singgah sementara di Jogja guna mengikuti tes masuk sebuah perguruan tinggi. Sehari sebelum kepulangannya ke Jakarta, ia menerima kabar jadwal penerbangan yang semula di Adisutjipto dipindahkan ke YIA. “Tetapi kami tetap ke Adisutjipto dulu, nah pas mau ke sini sudah disediain bus dan itu gratis, kayaknya itu disediain maskapai deh,” katanya.

Meski harus menempuh perjalanan hingga 90 menit menggunakan bus, sesampainya di YIA, Aizar justru merasa senang. Alasannya, bandara ini memiliki sejumlah spot yang cocok untuk berfoto. “Bandara ini bagus, kaya di luar negeri, dan bagus juga nih buat foto-foto,” ujarnya tertawa.