Delapan Pekerja di Gunungkidul Kena PHK, Efisiensi Mulai Berdampak
Delapan pekerja di Gunungkidul terkena PHK hingga akhir Juni 2026. Efisiensi perusahaan dan kondisi ekonomi global disebut menjadi pemicu utama.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki menunjukkan alat pencatat gempa yang berada di Kantor BPBD Gunungkidul, Kamis (16/5/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mendapatkan hibah bantuan alat pencatat gempa dari Jepang. Diharapkan dengan alat ini dapat memberikan informasi terkait dengan titik pusat dan kekuatan gempa yang bersumber dari wilayah di Bumi Handayani.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan bantuan alat pencatat gempa diberikan oleh BPNB yang berasal dari bantuan dari Jepang. Alat pendeteksi ini tidak hanya diberikan ke Gunungkidul, tapi juga kepada Pemda DIY sebanyak dua unit, Bantul dan Kulonprogo masing-masing satu unit. “Total ada lima yang diberikan untuk dipasang di wilayah DIY,” kata Edy kepada wartawan, Kamis (16/5/2019).
Menurut dia alat pencatat gempa ini dipasang sejak beberapa waktu lalu dan telah berfungsi dalam dua pekan terakhir. Adapun alat terdiri dari dua komponen. Satu unit dipasang di halaman Kantor BPBD Gunungkidul yang tersambung dengan satu unit alat yang terdiri dari perangkat elektronik lengkap dengan monitor kecil terpasang di ruangan kerja Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul.
Meski sudah terpasang, Edy mengakui belum tahu apakah alat ini sudah berfungsi atau belum. Ia berdalih hingga saat ini belum terjadi gempa sehingga belum ada catatan. “Kotak alat pendeteksi yang berada di luar kantor sudah diguncang-guncang untuk uji coba, tapi juga tidak memberikan dampak terhadap monitor pencatat di dalam,” katanya.
Rencannya dalam waktu dekat ada tim dari Jepang selaku pemberi bantuan memeriksa alat pendeteksi gempa yang terpasang. “Mereka datang untuk mengecek apakah alat sudah berfungsi dengan benar atau belum,” katanya.
Dia mengatakan, keempat alat pencatat gempa yang dipasang di wilayah DIY nantinya saling terhubung dengan titik pusat pemantaun di Stasiun BMKG DIY di Sleman. Diharapkan dengan pemasangan alat ini dapat mengetahui tentang sumber asal gempa hingga dampak yang ditimbulkan. “Semua terekam oleh BMKG, tapi alat yang dipasang di Gunungkidul bisa diketahui berapa kekuatan gempa yang telah terjadi lewat monitor yang terpasang,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Supriyadi, berharap agar alat pencatat gempa ini dirawat sehingga dapat berfungsi secara normal. Menurut dia, peralatan seperti ini sangat membantu dalam upaya mitigasi bencana di Bumi Handayani. “Harus dijaga dan jangan sampai rusak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Delapan pekerja di Gunungkidul terkena PHK hingga akhir Juni 2026. Efisiensi perusahaan dan kondisi ekonomi global disebut menjadi pemicu utama.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Argentina tertinggal 0-1 dari Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Messi gagal penalti, Shobeir jadi bintang.
Portugal memasuki era baru setelah Roberto Martinez mundur pasca-Piala Dunia 2026. Jorge Jesus disebut menjadi kandidat terkuat penggantinya.
KNMP Poncosari Bantul belum beroperasi meski pembangunan selesai sejak Januari 2026. Serah terima aset dari pemerintah pusat masih ditunggu.
Sebanyak 3.680 mahasiswa UIN Jogja dilepas KKN 2026. BPJS Ketenagakerjaan beri jaminan kecelakaan kerja dan kematian.