Kemarau 2019, Gunungkidul Siapkan Rp500 Juta untuk Atasi Kekeringan

Penyaluran Bantuan Air Bersih. - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 Mei 2019 06:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mulai melakukan pendataan terhadap daerah rawan kekeringan di musim kemarau tahun ini. Untuk pendataan akan dilakukan koordinasi dengan kecamatan, PDAM dan pamaskarta pada Jumat (17/5/2019).

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, sekarang Gunungkidul sudah memasuki masa pancaroba. Hal ini terlihat dari intensitas hujan yang mulai menurun sehingga menjadi tanda akan memasuki musim kemarau.

Menurut dia, untuk antisipasi kekeringan, BPBD sudah mengalokasikan anggaran Rp500 juta. Rencananya dana ini akan digunakan untuk dropping air bersih ke daerah-daerah yang mengalami krisis air bersih. “Sudah disiapkan dan baru digunakan saat ada permintaan resmi dari desa-desa,” kata Edy kepada wartawan, Selasa (14/5/2019).

Selain mengalokasikan anggaran untuk droping, BPBD juga akan melakukan pendataan terkait dengan daerah-daerah rawan kekeringan. Untuk laporan awal, ada lima kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan, di antaranya Tepus, Girisubo, Rongkop, Panggang dan Purwosari.

“Data masih sementara, lima kecamatan ini merupakan wilayah yang menjadi langgangan droping air saat kemarau,” ungkapnya.

Untuk kepastian berapa jumlah wilayah yang mengalami kekeringan, BPBD pada Jumat (17/5/2019) akan melakukan koordinasi dengan kecamatan, PDAM dan pamaskarta. “Koordinasi untuk mengetahui pasti daerah yang mengalami kekeringan. Yang jelas, untuk sekarang masih dalam proses pemetaan,” imbuhnya.

Menurut Edy, pelaksanaan penyaluran bantuan air bersih telah disiapkan tujuh armada truk pengangkut air. Meski demikian, pada saat penyaluran tidak semua armada dijalankan karena ada satu truk yang disiagakan sebagai pengganti untuk mengantisipasi adanya kerusakan armada yang dioperasionalkan.

“Yang dijalankan enam dan satu dicadangkan untuk berjaga-jaga pada saat ada halangan seperti kerusakan mesin atau masalah lainnya sehingga proses pengiriman tidak terganggu,” katanya.

Anggota DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S mengatakan, masalah air bersih menjadi masalah klasik yang terus dihadapi pemkab setiap tahunnya. Menurut dia, permasalahan ini harus diatasi karena dari potensi, Gunungkidul memiliki sumber air bawah tanah yang melimpah ruah.

“Dropping air bersih bukan solusi jangka panjang karena hanya sementara saja dan tidak akan menyelesaikan masalah karena krisis air bersih terus saja terjadi pada saat kemarau tiba,” katanya.

Ery berharap pemkab bisa membuat program pasti terkait dengan pemanfaatan air bersih yang bersumber dari sungai bawah tanah. “Potensi itu harus dimanfaatkan sehingga masalah air bersih saat kemarau bisa diatasi,” katanya.