Tata Kelola Air di Gunungkidul Harus Diperbaiki

Warga mengambil air dari bekas sumur bor di Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Jumat (14/9/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
27 Mei 2019 19:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Aktivis Jejaring Rakyat Mandiri, Rino Caroko, meminta Pemkab Gunungkidul memperbaiki tata kelola pengelolaan air. Pasalnya, dari sisi potensi Bumi Handayani memiliki banyak sumber air yang berada di sungai bawah tanah. Sayangnya, hingga saat ini potensi tersebut belum dimanfaatkan dengan baik.

“Akibatnya saat kemarau banyak sekali daerah yang kekeringan. Seharusnya dengan potensi sumber yang melimpah Gunungkidul tidak kekurangan air bersih,” kata Rino kepada wartawan, Senin (27/5/2019).

Menurut dia, peringatan hari jadi ke-188 dijadikan momentum untuk perbaikan dalam segala hal, khususnya masalah pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya menyangkut ketersediaan air bersih. Untuk saat ini ia menilai layanan belum maksimal sehingga kebutuhan air terus menjadi masalah yang harus dihadapi setiap tahunnya. “Ke depan harapannya Pemkab bisa memperbaiki tata kelola air sehingga masalah kekeringan bisa teratasi,” katanya.

Belum maksimalnya pengelolaan, kata Rino, bisa dilihat dari penyaluran air dari PDAM Tirta Handayani. Menurut dia, hingga sekarang penyaluran belum optimal karena masih sering macet. “Untuk pajak masyarakat tertib membayar, tapi untuk pasokan masih sering bermasalah. Harapannya persoalan bisa diperbaiki sehingga konsumen tidak dirugikan,” katanya.

Dikatakan Rino, upaya pemanfaatan sungai bawah tanah membutuhkan biaya yang besar. Meski demikian, ia menilai permasalahan ini bisa diatasi dengan meminta bantuan ke Pemda DIY maupun Pemerintah Pusat. “Yang penting ada kejelasan program yang akan dilaksanakan. Saya yakin, baik Pemerintah Pusat maupun Pemda DIY mau membantu dalam upaya mengatasi masalah air di Gunungkidul,” katanya.

Bupati Gunungkidul, Badingah, tidak menampik krisis air masih menjadi masalah yang dihadapi setiap tahunnya. Namun demikian, ia mengungkapkan cakupan daerah yang mengalami krisis terus berkurang. “Pasokan air sudah bisa mengalir ke 83% masyarakat di Gunungkidul. Pemerataan ini akan terus kami tingkatkan setiap tahunya,” kata Badingah.

Menurut dia, untuk pasokan air bersih Pemkab tidak hanya mengandalkan PDAM, tetapi juga mengoptimalkan peran dari spamdes yang ada di desa. Selain itu, setiap tahun Pemkab juga mengalokasikan anggaran untuk dropping air bersih ke tempat-tempat yang sulit dijangkau jaringan pipa air minum. “Untuk mengatasi masalah air di Gunungkidul kami butuh partisipasi dari pihak ketiga sehingga upaya penanganan bisa lebih optimal,” katanya.