Tekan Angka Kecelakaan, Supir Bus di Sleman Jalani Tes Urine

Para sopir bus di terminal Jombor saat menjalani tes urine, Rabu (29/5/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
30 Mei 2019 04:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Ditresnarkoba Polda DIY dan Sat Narkoba Polres Sleman, bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan tes urine kepada para sopir bus di terminal Jombor, Rabu (29/5/2019). Kegiatan ini sebagai upaya untuk menekan angka kecelakaan di jalan.

Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda DIY Kombes Pol Hermansyah mengatakan, mobilitas masyarakat pada jelang mudik lebaran 2019 tinggi, oleh karenanya, kata dia, pihaknya melakukan tes urine kepada para sopir bus sebagai upaya menekan angka kecelakaan akibat human error.

“Jadi agar bisa dipastikan bahwa sopir kendaraan itu betul betul sehat, tidak ada yang terindikasi menggunakan narkoba,” kata dia disela tes urine kepada para sopir bus di terminal Jombor, Rabu (29/5/2019).

Berdasarkan pantauan Harian Jogja di Terminal Jombor, Rabu (29/5/2019) siang, puluhan sopir bus tampak antri dan mendaftar kepada para petugas. Lalu, setelahnya, mereka yang sudah terdaftar kemudian memberikan sampel urine kepada petugas untuk langsung diperiksa.

Untuk memeriksa, petugas menggunakan alat bernama Diagnos Rapid Test yang dapat mendeteksi kandungan narkotika jenis amphetamin, metavitamin,ganja, morphin (heroin), dan psikotropika benzodiazepine secara cepat.

“Dari puluhan sampel, tidak ditemukan sampel yang terindikasi menggunakan narkoba,” tambah dia.

Selain di terminal jombor, kata dia, pihaknya juga akan melakukan tes urine di terminal lainnya, pemberangkatan-pemberangkatan travel, dan kemungkinan juga akan ke bandara.

“Kalau ditemukan sampel yang terindikasi narkoba tentu tidak kami izinkan untuk beroperasi, lalu kami periksa dan didalami bersama Ditresnarkoba,” ucap dia.

Kabid Pengendalian dan Operasional Dishub DIY, Harry Agus Triono, mengatakan, pihaknya, berkoordinasi dengan pengelola bus untuk menyiapkan kru bus yang sehat, selain itu, setiap empat jam, sopir bus diharuskan untuk beristirahat.

“Jadi untuk menghindari terjadi kecelakaaan, kalau memang kru bus tidak siap, bisa digantikan dengan yang siap. Jangan dipaksakan,” ujar dia.