Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Deretan andong berkirab saat acara unduh-unduh di sepanjang Jalan Urip Sumoharjo, Minggu (9/6/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai wujud rasa syukur dan untuk menjaga kerukunan antarumat beragama, Keluarahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman menggelar Kirab Budaya Unduh-Unduh yang mengusung tema Memetri Kerukunan Umat Beragama dari Klitren untuk Indonesia, Minggu (9/6/2019).
Ketua Panitia, Sugeng Kiswanto, menjelaskan unduh-unduh memiliki arti sedekah, wujud syukur atas berkah yang melimpah untuk masyarakat. “Agar masyarakat menjadi handarbeni, untuk sangkul-sinangkul, saling membantu,” kata dia.
Unduh-unduh tersebut diikuti oleh sekitar 350 peserta yang terdiri dari 17 komunitas di Kelurahan Klitren, seperti Bergodo Klitren, ibu-ibu PKK, kelompok drumben SDN Klitren, komunitas kain kiloan, paguyuban PKL Urip Sejahtera, Pantekosta SMA Bosa Jogja, pengusaha hotel serta beberapa komunitas lainnya.
Dalam kirab ini, peserta membawa tujuh gunungan dengan beragam isi. Ada gunungan sayuran, gunungan jajanan pasar, gunungan snack dan minuman saset, serta gunungan kain kiloan yang nantinya akan dibagikan pada pada masyarakat. Tak hanya itu, terlihat pula tiga kereta kuda yang bergabung dalam barisan kirab.
Kirab dimulai dari titik kumpul di halaman Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) sekitar pukul 09.00 WIB, berjalan menyusuri Jalan Urip Sumoharjo ke barat hingga Simpang Empat Mall Galeria, belok ke selatan melalui Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan transit di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman.
Di GKJ Gondokusuman, beberapa gunungan dimasukkan ke halaman gereja. Lalu salah satu Romo gereja mendoakan dan memberkati gunungan-gunungan itu.
Setelah itu secara simbolik gunungan diserahterimakan oleh Ketua Majelis GKJ Gondokusuman, Sarwanto kepada Lurah Klitren, Ahmad Zainuri.
Kiswanto mengatakan unduh-unduh memang diambil dari budaya gereja, sebab itu gunungan didoakan dulu di gereja. Meski demikian, dalam kirab ini pihaknya jua menajak sejumlah unsur lintas agama, seperti ustaz, remaja masjid, pendeta, romo dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). “Seperti temanya, tujuan kirab ini untuk menjaga kerukunan umat beragama,” kata dia.
Setelah sekitar 20 menit transit di GKJ Gondukusuman, kirab kembali melanjutkan perjalanannya ke selatan sampai simpangempat UKDW, lalu belok ke timur menyusuri Jalan Kusbini. Kirab finis di Embung Langensari. Di sana, tabuhan gamelan menyambut rombongan kirab.
Di embung tersebut sudah ada beberapa kegiatan menyambut, di antaranya paduan suara, panembrama, gambyong, tarian anak dan sebagainya. Di situ pula gunungan dibagikan untuk masyarakat. “Kegiatan yang disokong oleh Danais ini rencananya akan kami gelar rutin setiap tahun,” kata Kiswanto.
Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan unduh-unduh ini merupakan upaya bersama untuk merajut kerukunan antarumat beragama. “Inisiatif dari warga yang menunjukkan Jogja adalah kota yang multicultural dan toleran,” katanya.
Ia menyebutkan tahun ini Kementerian Agama memberi penghargaan Harmoni Award kepada Pemerintah Kota Jogja. “Semoga dengan unduh-unduh ini warga Jogja bisa terus mempertahankan ciri khas Jogja, yaitu gotong royong dan saling membantu untuk maju bersama,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.