56.000 Peserta BPJS Diaktifkan Lagi, Pemkab Gunungkidul Tambah Anggaran
Gunungkidul menambah anggaran BPJS Kesehatan Rp5,5 miliar menjadi Rp47,5 miliar setelah reaktivasi peserta PBI.
Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan jatah air bersih. /Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat hingga saat ini ada dua kecamatan yang mengajukan permintaan bantuan air bersih yakni Kecamatan Girisubo dan Paliyan. Saat ini kedua wilayah tersebut sudah mendapatkan bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan memasuki musim kemarau krisis air sudah terjadi di Kecamatan Girisubo dan Paliyan. Hal ini terlihat dari permohonan resmi dropping air yang masuk ke Kantor BPBD Gunungkidul.
Menurut dia, setelah ada permohonan tim dropping air langsung menyalurkan bantuan ke dua wilayah yang mengalami kekeringan. “Bantuan sudah kami kirim sebelum Lebaran, tepatnya empat hari sebelum perayaan Idulfitri,” katanya kepada wartawan, Minggu (9/6/2019).
Edy menjelaskan hingga saat ini jumlah wilayah yang meminta bantuan air bersih masih belum banyak. Meski demikian, seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya pada saat mendekati puncak musim kemarau jumlah permintaan diprediksi terus bertambah. “Kami memiliki banyak wilayah kecamatan yang menjadi langganan krisisi air. Selain Girisubo, ada juga Tepus, Rongkop, Panggang, Purwosari, Patuk hingga wilayah Semin,” katanya.
Menurut dia, untuk bantuan air bersih tahun ini BPBD Gunungkidul mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta. Adapun armada yang diterjunkan untuk penyaluran sebanyak tujuh unit truk tangki pengangkut air. “Kami siapkan tujuh unit truk tangki, tapi yang beroperasi penuh hanya enam karena satu unit dijadikan cadangan,” katanya.
Edy menambahkan bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD karena tim dari kecamtan juga melakukan hal yang sama. Selain itu pihak swasta juga banyak berpartisipasi dalam memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat. “Koordinasi pasti ada. Hal ini dilakukan agar bantuan tidak tumpang tindih sehingga ada pemerataan di masyarakat yang mengalami krisis air,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Camat Girisubo, Arif Yahya. Menurut dia jajarannya berkoordinasi dengan BPBD Gunungkidul terkait dengan penyaluran bantuan air bersih. “Sudah dikomunikasikan dan hasilnya BPBD menangani krisis air yang melanda di Desa Nglindur, Karangawen, Jepitu dan Balong. Sedangkan empat desa lainnya yakni Songbanyu, Pucung, Tileng dan Jerukwudel ditangani tim dari kecamatan,” kata Arif.
Dia menjelaskan Kecamatan Girisubo merupakan salah satu wilayah yang menjadi langganan krisis air saat kemarau. Hal ini tak lepas dari minimnya sumber air di wilayah pesisir ini sehingga warga banyak memaanfaatkan sisa air hujan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Warga banyak memiliki bak penampungan air hujan, tapi cadangan yang dimiliki tidak banyak sehingga sering beli dari pedagang air swasta atau menunggu bantuan dari pemerintah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul menambah anggaran BPJS Kesehatan Rp5,5 miliar menjadi Rp47,5 miliar setelah reaktivasi peserta PBI.
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pemkab Sleman dan Klaten menyepakati pembagian PBJT Candi Prambanan untuk mengoptimalkan PAD dan pengembangan kawasan wisata.