Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi ASJepang Efektif?
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Ilustrasi jalan tol./JIBI-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan HB X kembali ragu-ragu dengan proyek tol di provinsi ini. HB X masih mempertimbangkan keuntungan ekonomi bagi warga sekitar.
Rencananya, ada tiga ruas tol yang melintasi DIY yaitu tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen dan Solo-Jogja-Cilacap.
“Belum selesai [trase tol], kami belum menentukan, saya belum sepakat karena risikonya terlalu besar,” kata Sultan di Pendopo Parasamya, kompleks Pemerintahan Kabupaten Bantul, Kamis (13/6/2019).
Sultan berkaca pada proyek Tol Trans Jawa yang berimbas pada ekonomi warga sekitar jalan Pantai Utara Jawa. Setelah adanya tol, banyak usaha di Pantura merosot.
“Saya tidak mau kalau rakyat saya [setelah adanya tol] ekonominya turun. Yang untung kan yang punya tol. Sekarang warga sekitar [yang dilintasi tol] ekonominya hidup atau mati?” kata Sultan memberikan alasan soal belum selesainya penentuan trase tol yang masuk wilayah DIY.
Sultan sempat menolak ide pembangunan tol Jogja-Bawen tetapi kemudian menyetujuinya dengan sarat tidak memakan banyak lahan. Trase tol Jogja-Bawen kemudian ditetapkan melintasi Selokan Mataram di Ring Road barat hingga wilayah Magelang, Jawa Tengah.
HB X juga pernah menolak tol Jogja-Solo karena khawatir akan menerabas dan merusak situs penting di kawasan Prambanan. Pemerintah Pusat kemudian menawarkan tol layang untuk mengatasi masalah ini.
Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan Pemda DIY tetap mencari solusi terbaik bagi masyarakat DIY sebelum menentukan ruas tol Jogja-Solo. Dampak yang paling kecil akan diambil oleh Pemda sebelum menyepakati trase tol Jogja-Solo.
Gatot menegaskan hingga kini belum ada kesepakatan soal trase tol Jogja-Solo. Penentuan ruas jalan tol Jogja-Solo mulai dari pintu masuk dari Jawa Tengah (Manisrenggo) hingga keluar ke Kota Jogja hingga kini masih belum final. “Yang sudah fiks yang [tol] Jogja-Bawen. Untuk [tol] Jogja-Solo belum final. Dari gambar yang ada, ada ruas yang elevated ada juga yang at grade [kombinasi], tapi belum fiks,” katanya di sela-sela syawalan Gubernur DIY dengan Pemkab Bantul, Kamis (13/6/2019).
Ruas tol Jogja-Solo ini, katanya, perencanaannya memang diserahkan kepada swasta. Kondisi itu berbeda dengan ruas tol Jogja-Bawen.
Gatot menambahkan Pemda DIY menawarkan lima alternatif exit tol di kawasan Maguwoharjo. Mulai dari ujung Ring Road Timur (Lotte Mart), melalui Stadion Maguwoharjo, sekitar Candi Sambisari dan Candi Kedulan.
Dari tawaran tersebut, ujung Ring Road Timur dinilai lebih realistis karena dinilai tidak menimbulkan dampak sosial di masyarakat.
"Kriterianya sepanjang [tol] tidak melewati situs-situs bersejarah, jarak minimal dari situs 500 meter itu yang disetujui. Selain itu, seminimal mungkin dampak ke masyarakat dan biaya pembebasan tanahnya, serta tol tidak berdampak pada aktivitas ekonomi lokal," katanya.
Meskipun demikian, kata Gatot, belum ada kata sepakat terkait dengan penentuan trase dan exit tol untuk Jogja-Solo. Disinggung tawaran exit tol yang masuk ke ruas Ring Road, Gatot mengaku tidak masalah. Alasannya, pemerintah pasti akan meningkatkan kapasitas jalan Ring Road. Meski begitu, Pemda DIY akan menolak jika ada tol di atas Ring Road (untuk menyambung dengan tol Jogja-Bawen).
Saat ini, kata Gatot, sudah dibangun underpass Kentungan setelah itu akan dilanjutkan dengan pembangunan underpass Gejayan (sebelah Timur underpass Kentungan). Selain itu, masih ada juga rencana pembangunan Jalan Jogja Outer Ring Road (JORR) untuk mengurangi kepadatan kendaraan. "Tentu penambahan kapasitas jalan Ring Road ke depan akan dilakukan. Bisa dilebarkan. Tinggal [pusat] ada dananya atau tidak?," kata Gatot.
Gatot belum bisa menentukan perencanaan yang mengakomodasi warga sekitar setelah adanya tol. Namun ia mencontohkan semacam titik simpul atau area pemberhentian (rest area). “Misal kalau melewati Prambanan selain jangan melintasi situs, juga situs itu kan bagian dari destinasi wisata. Desain tol harus desain bisa turun di situ, misalnya,” kata Gatot.
Tol yang sudah disepakati adalah Tol Jogja-Bawen. Dari panjang sekitar 71 kilometer dari Bawen ke Jogja, sekitar 15-16 kilometer di antaranya melintasi DIY dari ujung Karang Talun, Minggir Sleman sampai ke timur dan membentang di atas Selokan Mataram, “Sudah fix yang ini,” kata dia.
Sementara dua ruas jalan tol lainnya Jogja-Solo dan Jogja-Cilacap belum sepakat.
Sementara Tol Jogja-Cilacap belum disepakati karena jalur yang akan dilintasi sudah terakomodasi dengan keberadaan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan jalan arteri. Gatot mengatakan, Sultan menginginkan agar kedua jalur tersebut dioptimalkan, “Jangan sampai begitu ada jalan tol, jalan yang ada tidak optimal,” ujar Gatot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Bek Singapura Jacob Mahler mengungkap filosofi tim yang membantu The Lions menahan imbang Indonesia 1-1 dan lolos ke semifinal Piala AFF 2026.
Veda Ega Pratama finis ketiga pada FP2 Moto3 Inggris 2026 di Silverstone dan lolos langsung ke Q2. Honda Team Asia menilai masih ada peluang besar untuk meningk
Pemprov DKI Jakarta memastikan data perpajakan dan aset daerah tetap aman meski Gedung Bapenda DKI di Jalan Abdul Muis terbakar. Layanan publik dipastikan tetap
Poster The Mummy di London Underground dilarang ASA karena visual dinilai terlalu realistis dan picu ketakutan anak-anak. Warner Bros. diperintahkan tarik iklan
Adobe resmi menghadirkan plugin untuk ChatGPT yang memungkinkan pengguna mengedit foto, membuat desain, merangkum PDF, hingga menghasilkan gambar AI langsung le