Warga Pesisir Gunungkidul Diimbau Waspadai Serangan Hewan Liar

Ilustrasi kambing setelah terkena gigitan anjing liar - Harian Jogja/Dok
17 Juni 2019 06:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GIRISUBO—Warga di kawasan pesisir selatan Gunungkidul diimbau mewaspadai serangan hewan liar terhadap ternak yang dimiliki. Imbauan ini mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Potensi serangan meningkat seiring memasuki musim kemarau.

Sekretaris Camat Girisubo, Arif Yahya, mengatakan ancaman serangan hewan liar saat kemarau harus diantisipasi sehingga warga tidak merugi akibat serangan tersebut. “Untuk saat ini belum ada kasus, tapi pengalaman tahun-tahun sebelumnya kejadian selalu ada sehingga warga harus berhati-hati,” katanya kepada Harian Jogja, Sabtu (15/6/2019).

Menurut Arif, upaya antisipasi bisa dilakukan beberapa cara seperti ronda keliling, penjagaan hewan ternak diperketat, serta penguatan kandang. Dia berharap serangan hewan liar bisa dicegah sehingga tidak ada kambing yang mati karena serangan tersebut. “Mudah-mudahan bisa dicegah agar peternak tidak merugi,” katanya.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Suyanto, mengatakan seiring masuknya musim kemarau potensi serangan hewan liar terhadap ternak makin besar. “Harus diantisipasi agar serangan tidak terjadi,” katanya.

Yanto menuturkan upaya paling efektif untuk mengantisipasi serangan dengan membawa ternak pulang ke rumah. Selama musim penghujan, kata dia, banyak warga yang memelihara ternak kambing maupun sapi di area ladang yang jauh dari rumah. “Tujuannya agar warga tidak bolak balik untuk memberi makan ternak karena pakan mudah didapatkan di area ladang,” tuturnya.

Suyanto meminta kepada warga untuk membawa pulang ternak pada musim kemarau karena potensi serangan hewan liar meningkat. Menurut dia, upaya membawa pulang merupakan cara paling efektif untuk mengantisipasi serangan hewan liar. “Kalau dibawa pulang lebih mudah diawasi. Beda kalau di ladang, pengawasan berkurang dan serangan lebih mudah terjadi,” katanya.

Menurut Suyanto, saat ini warga mulai sadar dan membawa pulang ternak ke rumah. Hal ini berdampak terhadap jumlah serangan yang terjadi di tahun lalu yang berkurang signifikan.

Sebagai gambaran di 2017 total jumlah kambing yang mati akibat serangan hewan liar sebanyak 80 ekor. Namun setahun berikutnya berkurang dan tinggal sembilan ekor kambing yang menjadi korban. “Berkurangnya serangan terjadi karena ternak yang semula dipelihara di ladang dibawa pulang ke rumah sehingga mudah diawasi,” katanya.