BPJT Siapkan Tim Lelang Tol Jogja-Bawen

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/M. Ferri Setiawan
20 Juni 2019 09:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemda DIY berharap proyek pembangunan tol Jogja-Bawen bisa segera terealisasi. Adapun BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) saat ini sedang menyiapkan tim untuk persiapan tender.

Kepala Balai Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menggatakan lelang untuk tol Jogja-Bawen tetap direncanakan tahun ini. Saat ini finalisasi dokumen (pengadaan tanah) masih dilakukan oleh Ditjen Bina Marga. Jika dokumen kelayakan, DPPT dan sebagainya sudah disetujui, tahapan selanjutnya berupa penlok sebelum dilakukan pengadaan investasi.

Sayangnya, Danang belum bisa memastikan kapan lelang dilaksanakan. Apakah Juli atau semester kedua tahun ini. Danang juga tidak menyebut faktor lain dari lamanya proses pembangunan jalan tol Jogja-Bawen tersebut. "Kalau dari BPJT, kami menyiapkan SK BPJT untuk panitia tender yang akan memproses lelang," katanya saat dihubungi Harian Jogja, Rabu (19/6/2019).

Sementara itu, Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan proyek tol Jogja-Bawen merupakan kewenangan pusat. Rencana pembangunan tol tersebut baik dari perencanaan maupun pelaksanaannya berada di bawah BPJT. Proyek tersebut diharapkan bisa berjalan seiring dengan rencana dimulainya proyek tersebut dari Jawa Tengah. "Kami juga berharap tahun ini (dilaksanakan). Silahkan tanya sama BPJT (kendalanya)," katanya.

Dijelaskan Gatot, rencana pembangunan tol Jogja-Bawen tersebut sudah final. Pemda DIY sudah menyepakati DED ruas dari perbatasan Jawa Tengah hingga masuk wilayah DIY. "DED sudah disepakati. Jogja-Bawen sudah final, sudah ketemu. Saya tinggal lelang saja, tunggu waktu saja," katanya.

Dijelaskan Gatot, tidak ada perubahan mengenai trase tol Jogja-Bawen. Panjang ruas jalan yang digunakan sekitar 10-15 km dan dibangun di atas selokan Mataram. Mulai dari ujung Karangtalun, Minggir, Sleman melewati selokan Mataram hingga Ringroad Barat di mana exit tol berada di sekitar Westlike. "Itu sudah fix. Ruas ini hanya sedikit menggunakan lahan pertanian, cuma prosentasenya kecil sekali," paparnya.

Berbeda dengan tol Jalan Jogja-Bawen, katanya, pembangunan tol ruas Jogja-Solo masih belum disepakati. Penentuan ruas jalan tol Jogja-Solo mulai dari pintu masuk dari Jawa Tengah (Manisrenggo) hingga keluar ke Kota Jogja hingga kini masih belum final. "Yang sudah fiks yang [tol] Jogja-Bawen. Untuk [tol] Jogja-Solo belum final. Dari gambar yang ada, ada ruas yang elevated ada juga yang at grade [kombinasi], tapi belum fiks," katanya.

Untuk ruas tol Jogja-Solo ini, katanya, perencanaannya memang akan diserahkan pada swasta. Kondisi itu berbeda dengan ruas tol Jogja-Bawen. Pemda DIY menawarkan lima alternatif exit tol di kawasan Maguwoharjo. Mulai dari ujung Ringroad Timur (Lotte Mart), melalui Stadion Maguwoharjo, sekitar Candi Sambisari dan Candi Kedulan.

Dari tawaran tersebut, ujung Ringroad Timur dinilai lebih realistis karena dinilai tidak menimbulkan dampak sosial di masyarakat.

"Kriterianya sepanjang [tol] tidak melewati situs-situs bersejarah, jarak minimal dari situs 500 meter itu yang disetujui. Selain itu, seminimal mungkin dampak ke masyarakat dan biaya pembebasan tanahnya, serta tol tidak berdampak pada aktivitas ekonomi lokal," katanya.

Meskipun demikian, kata Gatot, belum ada kata sepakat terkait penentuan trase dan exit tol untuk Jogja-Solo. Disinggung tawaran exit tol yang masuk ke ruas Ringroad, Gatot mengaku tidak masalah. Alasannya, pemerintah pasti akan melakukan peningkatan kapasitas dari jalan Ringroad. Meski begitu, Pemda DIY akan menolak jika ada tol di atas Ringroad [untuk menyambung dengan tol Jogja-Bawen]. Gatot mengatakan, sesuai arahan Gubernur DIY Sri Sultan, Pemda berharap agar jalur tol Jogja-Solo juga tidak ke Selatan agar JJLS dan jalan nasional tetap berfungsi dan tidak optimal.