Kali Gajahwong: Dulu Banyak Sampah, Kini Jadi Lokasi Wisata Murah Meriah

Wisata Air Taman Pleredhan Gajahwong, Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Jogja, terlihat bersih dan asri, Senin (24/6). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
26 Juni 2019 22:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAKali Gajahwong yang mengalir di Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, menjadi lokasi wisata air yang terjangkau masyarakat. Sebelumnya, daerah di sekitar aliran sungai tersebut adalah tempat pembuangan sampah. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lugas Subarkah.

“Enggak perlu ke Amazon kalau mau merasakan sensasi menyusuri sungai, cukup ke Giwangan,” kata Ketua Pokdarwis Giwangan, Susanto Dwi Antoro, Senin (24/6/2019).

Aliran Sungai Gajahwong di Kampung Ponggalan, Karangmiri, dan Mrican, Kelurahan Giwangan, kini menjadi lokasi wisata alternatif. Dua kapal beratap seng dan rumbia disediakan untuk mengantarkan pengunjung menjelajahi Sungai Gajahwong sepanjang satu kilometer.

Tepian sungai telah dibersihkan, dirapikan dengan paving block, menjadi lokasi berdirinya gazebo, warung, toilet, area parkir, dan sejumlah spot foto dengan bingkau bambu dan latar belakang sungai yang bersih. Tempat itu dinamai Wisata Air Taman Pleredhan Kali Gajahwong.

Di siang pada hari kerja, tampat itu sepi. Satu-dua warga beristirahat di gazebo. Beberapa pemancing mengulurkan jorannya menunggu umpannya disambar ikan. Pemerintah Kota Jogja secara periodik menyebar bibit ikan di Gajahwong sehingga banyak pemancing yang datang.

Di sungai, beberapa orang menambang pasir dengan serok agar dasar sungai tetap dalam sehingga aman untuk perjalanan kapal, minimal setengah meter. Namun, jika terlalu sering, penambangan bisa merusak beronjong pengaman talut.

Ketua Pengelola Taman Pleredhan Kali Gajahwong, Afdol Mustaqim, menceritakan dulu tempat itu jadi pembuangan sampah. Kumuh, padahal banyak orang datang untuk memancing. Tidak tahan dengan kondisi buruk tersebut, ia dan warga lainnya berinisiatif membersihkannya.

Warga swadaya mengumpulkan uang Rp24 juta. Selain untuk membersihkan tepian sungai, duit itu juga dipakai membeli perahu karet, ban dalam untuk river tubing, dan pelampung.

“Kalau cuma membersihkan, rasanya nanggung, kenapa enggak sekalian untuk wisata? Bisa memberdayakan warga juga,” katanya.

Di tahun pertama, pengelola menjalankan trip river tubing menggunakan ban dalam. Pengunjung berkumpul di titik yang kini disebut Dermaga Kapal Wisata Cinta Gajahwong, lalu diantar ke jembatan Tegal Gendu. Dari sana, mereka meluncur menyusuri Gajahwong dan finis di titik kumpul.

Tahun kedua, pengelola mengganti river tubing dengan perahu dayung. Menurut Mustaqim, pada mulanya banyak yang suka mendayung karena terasa begitu dekat dengan alam. Lama kelamaan, perahu dayung semakin sedikit peminatnya karena pada siang hari terlampau terik.

Pengelola pun mengganti perahu dayung dengan perahu beratap, yang terwujud di tahun ketiga. Di tahun kedua dan ketiga, mereka mendapat suntikan dana dari Dinas Pariwisata DIY sebesar Rp380 juta. “Dari awal saya tekankan ke warga, pemerintah baru akan melirik kalau sudah ada karya, makanya kami harus bergerak sendiri dulu,” ucap Mustaqim.

Ramai

Taman Pleredhan Kali Gajahwong biasanya ramai di akhir pekan. Pada Minggu, pengunjung harus mengantre karena hanya ada dua kapal berkapasitas masing-masing 12 orang.

“Setiap Minggu, ditambah para pemancing, pengunjung bisa mencapai 600 orang,”  kata Mustaqim.

Ongkos naik kapal sekali perjalanan Rp5.000 per orang. Rutenya berangkat dari Dermaga Kapal Wisata Cinta Gajahwong menuju utara sampai Jembatan Tegal Gendu, lalu berputar balik menuju selatan hingga mendekati dam dan kembali ke titik start.

“Tidak ada batas minimal penumpang, satu penumpang pun kapal akan berangkat,” kata Mustaqim.

Pengunjung juga bisa menikmati wisata kapal ini dengan paket Rp25.000 per orang. Paket ini mencakup beberapa fasilitas seperti trip kapal, gazebo, speaker, parkir, toilet dan makan soto bumbung. Soto bumbung adalah kuliner khas Taman Pleredhan Kali Gajahwong.

Mirip soto biasa, soto ini menggunakan kuah dari kaldu daging sapi, sementara dagingnya ayam. Soto bumbung disajikan menggunakan bumbung atau potongan bambu. “Tanpa pengawet, jadi aman,” kata Mustaqim.

Karena menjadikan sungai sebagai objek utamanya, tantangan terberat yang dihadapi pengelola adalah masalah kebersihan. Saban hari harus ada petugas yang turun ke sungai dan membersihkan sampah. Sebab, meski warga setempat telah paham untuk tidak membuang sampah ke sungai, sampah masih datang dari hulu.

Sekitar 100 meter di selatan Dermaga Kapal Wisata Cinta Gajahwong, tepatnya di saluran irigasi sungai Gajahwong, terdapat kolam berisi ratusan ikan nila. Di sini, wisatawan bisa memberi makan ikan-ikan itu sembari mencelupkan kaki ke air.

Pengelola menyediakan pelet yang bisa dibeli seharga Rp2.000 untuk ukuran gelas plastik kecil dan Rp5.000 untuk ukuran gelas plastik besar. Kolam ikan ini baru dibuat sekitar tiga bulan yang lalu agar Kampung Mrican yang berbatasan dengan Gajahwong lebih tertata. Sebelumnya, Dinas Pariwisata DIY juga telah mengeraskan jalan menggunakan paving block, mendirikan gazebo, dan taman bermain.

Warga setempat menambahkan angkringan dengan menu khas wedang jahe jeruk. Jika sore, tempat itu akan ramai dikunjungi penduduk setempat yang ingin jajan atau sekadar cari angin.

Suwarto, pengelola kolam ikan, mengatakan tempat itu sudah jauh lebih bersih dibanding dulu. Kebiasaan masyarakat pun sudah membaik. Mereka sadar untuk menjaga kebersihan. “Pengunjung saat ini masih dari warga sekitar Giwangan, kami belum banyak promosi karena masih mempersiapkan fasilitas lainnya seperti area parkir.”