Nasib Mahasiswa Kampus Merger di DIY: Harap-Harap Cemas Hingga Tak Peduli

Ilustrasi mahasiswa di kampus - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
11 Agustus 2019 17:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah perguran tinggi swasta (PTS) akan dimerger karena minimnya mahasiswa. Lalu bagaimana nasib mahasiswa di kampus yang dilebur tersebut? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Meja pendaftaran Akademi Pertanian Yogyakarta (APTA) siang itu sepi. Di atas meja berlapis kain merah itu, beberapa lembar formulir pendaftaran ditumpuk, di sebelah sehelai kertas presensi kehadiran calon pendaftar. Tak terlihat antrean di ruang tengah tempat meja pendaftaran mahasiswa baru diletakkan. Hanya beberapa mahasiswa semester akhir yang lalu lalang membawa bundel kertas tugas akhir.

Pemandangan kampus yang sepi sudah tak asing lagi di mata Alif Taufiq Hidayat, 21. Sejak dia menunggu dosen di kampus untuk urusan legalisasi tugas akhir dari pagi, dia bisa menghitung berapa banyak mahasiswa yang datang mendaftar di APTA.

“Baru sekitar dua belas orang hingga siang jelang sore ini. Di sini memang mahasiswanya sedikit, satu angkatan paling hanya sekitar 40 mahasiswa. Terkadang ada yang di tengah jalan berhenti kuliah atau pindah kampus. Tetapi ada juga yang daftar ke sini di tengah jalan, enggak kuat sama biaya pergaulan kampus besar,” kata mahasiswa asal Banten ini, Rabu (31/7/2019).

Alif dapat memahami alasan teman-temannya. Beberapa dari mereka terpaksa berhenti kuliah karena keluarganya di kampung tak sanggup lagi mengirimkan biaya kuliah, ada juga yang pindah ke kampus dengan akreditasi lebih tinggi. Sebelum berkuliah di APTA pun, Alif berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) jurusan kemaritiman yang satu angkatannya hanya berisi 10 mahasiswa.

Pertimbangan biaya yang murah menjadi alasan Alif berkuliah di dana. Namun setiap hari, tak semua mahasiswa berangkat kuliah. Beberapa membolos hingga setengah semester. Proses belajar pun menjadi tersendat.

“Saya cemas dan bingung waktu itu, kalau saya kuliah di situ terus, nanti prospek pekerjaan saya gimana nih? Akhirnya saya tanya teman SMA saya, apa saja ya kampus yang murah tapi bagus di Jogja? Saya siap-siap pindah kampus,” kata Alif.

Sekali lagi Alif membandingkan kampus-kampus swasta di Jogja dari segi biaya. Memang tak ada sanak keluarganya di Jogja dan semua keputusan ada di tangan Alif. Namun Alif selalu memikirkan kondisi keuangan keluarganya di kampung halaman. Dia teringat adik-adiknya yang masih membutuhkan biaya sekolah, dia juga teringat ayahnya yang banting tulang sebagai buruh di kebun sawit Riau.

“Saya sejak kecil terbiasa ditinggal ayah kerja di kebun sawit. Setelah keluar dari kampus yang cuma 10 mahasiswa tadi, saya kepikiran kuliah di APTA. Saya ingin jadi kayak ayah saya tapi jabatannya lebih tinggi, misalnya, mandor begitu,” kata Alif.

Pilihannya pun jatuh ke APTA karena menurutnya kampus itu menawarkan biaya kuliah yang sangat murah dengan akreditasi tinggi. Meskipun teman satu angkatan Alif hanya sekitar 30 orang, Alif merasa bangga bisa berkuliah di APTA. Dia dan teman-temannya seperti keluarga. Tak ada gap lingkaran pertemanan.

Proses belajar dengan fasilitas yang memadai pun jadi terasa asyik seperti bermain. Siang itu Alif datang ke kampus mengenakan jersey Manchester United dan celana training olahraga. Dia juga santai menggunakan sandal jepit hitam. Budaya santai seperti itu lah yang membuat Alif betah berkuliah di APTA.

“Sempat dengar soal wacana merger yang akan memengaruhi ijazah kami saat cari kerja sih, kan nanti akreditasinya ngulang dari awal ya. Namun, kami memutuskan tidak peduli. Di mana lagi kampus yang murah tapi bagus begini? Ilmu lapangan dapat, fasilitas lengkap. Sudah luar biasa buat saya,” kata Alif.

Jika Alif sempat cemas akan nasib akreditasi kampus, Ahmad Bahrudin, 21, mengaku tak peduli dengan akreditasi yang tertera pada ijazahnya nanti. Mahasiswa asal Pemalang yang sempat bekerja di Maluku sejak lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) ini menyadari betapa pentingnya mengenyam bangku perkuliahan, di mana pun kampusnya.

“Saya sempat kerja di Maluku, di kebun macam-macam, lokasi pedalaman. Di sana sumber daya manusia sedikit sekali. Sedikit juga yang benar-benar menguasai ilmu pertanian. Dari situ saya kepikiran, apa saya kuliah aja ya? banyak lahan tetapi banyak manusia yang kurang bisa mengelolanya,” kata Udin, sapaan akrab, Ahmad Bahrudin, yang siang itu menenteng berkas revisi tugas akhirnya.

Dua tahun lalu, dia sibuk dengan satu kertas putih, di atasnya penuh coretan angka yang menggambarkan biaya kuliah dan biaya hidupnya selama di Jogja. Seorang diri, dia membandingkan besaran biaya kuliah dari tiga kampus, termasuk APTA.

“Ya jujur saya kan dari keluarga kurang mampu. Saya sampai hitung benar-benar. Akhirnya pilih APTA. Saya enggak peduli apa itu legalitas dan akreditasi, yang penting kuliah dan biaya terjangkau saja sudah. Murni cari ilmu buat menunjang kerja lapangan kelak,” kata Udin.

Sudah Dilebur

Sebanyak dua PTS di Jogja telah dimerger dan diberikan Surat Keputusan dari Kemenristek Dikti, Senin (26/2). Kopertis Wilayah V DIY mendorong PTS yang kekurangan mahasiswa untuk mengikuti jejak kedua kampus tersebut.

Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi menjelaskan merger PTS di Jogja perlahan mulai teralisasi. Dua PTS yaitu, STIKES A. Yani dan STMIK A.Yani secara resmi telah dimerger menjadi PTS baru bernama Universitas Jenderal Ahmad Yani. SK dari Menristekdikti telah diterbitkan dan pihaknya telah menyampaikan surat tersebut kepada PTS itu pada Senin.

Setya Mahendra Dewantoro, 19, mendapat pesan singkat di ponselnya setahun lalu. Melalui pesan singkat itu, Hendra mengetahui ada diskon atau potongan biaya kuliah di Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani). Hendra langsung tertarik mendaftar sebagai mahasiswa baru karena potongan Rp1,5 juta yang dijanjikan pihak universitas.

Setelah berkonsultasi dengan ayah ibunya, ternyata orang tuanya sependapat dengannya. Hendra semakin mantap menjalani hari-hari perkuliahannya ketika melihat berbagai fasilitas yang sangat modern dan dianggapnya cukup menunjang jurusannya yaitu Teknik Informatika.

“Sebenarnya waktu awal masuk sudah tahu kalau kampus ini baru, hasil merger katanya. Jadi akreditasinya masih rendah. Sempat kepikiran juga sih, kalau sampai lulus akreditasi enggak naik nanti dilirik enggak sama perusahaan?” kata Hendra.

Namun kecemasan Hendra perlahan-lahan terkikis. Universitas selalu mengatakan akreditasi kampus akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Hendra adalah mahasiswa baru, masih memiliki waktu untuk menunggu kampusnya meningkatkan akreditasi.

“Masih banyak waktu. Sambil kuliah dijalani. Lagipula masih ada harapan, kalau skill bagus banget pasti yang dilihat bukan lagi universitasnya dari mana,” kata Hendra.