Indonesia dan Tiongkok Punya Banyak Kesamaan, Apa Saja?

Suasana seminar People-to-People Connectivity and Dialogue among Civilizations dan Pameran Foto bertajuk Belt and Road di Royal Ambarrukmo Yogyakarta (YIA), Sleman, Sabtu (22/6)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
27 Juni 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kebudayaan Tionghoa selalu bersifat terbuka dan tidak pernah menolak atau menyingkirkan kebudayaan lain yang memiliki manfaat bagi umat manusia. Itulah sebabnya kebudayaan Tionghoa bisa bertahan selama 5.000 tahun dan berkembang terus menerus. Hal itu dibahas dalam Seminar on People-to-People Connectivity and Dialogue among Civilizations dan Pameran Foto bertajuk Belt and Road di Royal Ambarrukmo Yogyakarta (YIA), Sleman, Sabtu (22/6).

Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional yang juga Ketua China Association for International Understanding (CAFIU) Ji Bingxuan mengungkapkan Tiongkok dan Indonesia adalah negara tetangga yang berseberangan laut. Kedua negara ini memiliki hubungan sejarah serta persahabatan sejak lama. Hubungan Indonesia dan Tiongkok bisa ditelusuri 4.700 tahun yang lalu.

Pada tahun 400 sebelum Masehi, pelabuhan-pelabuhan di Pulau Jawa sudah mulai berdagang dengan bagian selatan Tiongkok, Asia Tenggara, dan India. Hingga saat ini sudah berlangsung lebih dari 2.700 tahun. Pada awal abad ke-13, Laksamana Cheng Ho tercatat sebanyak tujuh kali berlayar di laut lepas. Dan setiap kali berhenti di Nusantara dan meninggalkan kisah sejarah bagi rakyat Indonesia.

"Ratusan tahun setelah Dinasti Ming, hubungan di antara kita tidak pernah putus dan semakin berkembang. Melihat masa lalu, pada 2013 Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Indonesia dan membuat hubungan bilateral sebagai kemitraan strategi komprehensif, hubungan kemitraan kita memasuki tahap baru," jelas dia, Sleman.

Ia menjelaskan Tiongkok dan Indonesia sama-sama merupakan negara kuno di Asia dan memiliki peradaban beragam. Menurutnya saling belajar kebudayaan dan peradaban agar bagian hubungan bilateral dalam bidang pendidikan, kebudayaan, olahraga, kesehatan, pariwisata, dan lainnya semakin diperluas. Hal ini akan mendorong saling pemahaman dan persahabatan.

"Saat ini, dengan adanya globalisasi dunia dan ekonomi, kebudayaan dikembangkan secara mendalam. Kepentingan rakyat di dunia semakin berpadu untuk membangun kesepakatan senasib sepenanggungan," papar dia.

Namun, pada saat bersamaan superioritas peradaban muncul di sana sini dan menjadi suara tidak merdu yang menghambat saling komunikasi antarperadaban. Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu di konferensi peradaban Asia mengungkapkan pemikiran peradaban paling baik dan bisa menggantikan peradaban lain justru akan menghasilkan bencana.

"Kita harus menjunjung tinggi peradaban dan meperlakukan dengan hormat, membuang prasangka, dan memperdalam pengetahuan terhadap perbedaan antara peradaban sendiri dengan yang lain, mendorong komunikasi dan dialog antarperadaban yang berbeda," jelas dia. 

Sistem Terbuka

Ia mengungkapkan Tiongkok menggagas adanya Belt and Road Initiative (BRI) bukan hanya sebagai platform untuk kerja sama ekonomi, tetapi juga budaya sebagai penggerak baru berbagai peradaban sehingga berbagai peradaban yang ada bisa berkomunikasi. "Dalam konteks peradaban, keberagaman akan membawa komunikasi. Komunikasi akan membawa saling pembelajaran dan saling pembelajaran akan membawa kemajuan dan perkembangan," ujar dia.

Ia menyatakan peradaban Indonesia juga merupakan sistem terbuka. Peradaban Indonesia dibentuk dari pertukaran dengan peradaban lainnya. Adapun DIY dipandang sebagai asal muasal kesenian dan kebudayaan Jawa, agama Buddha, Hindu, serta Islam. Keberadaan Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Jogja, dan arsitektur lain menjadi simbol pertemuan peradaban.

"Maka kita di sini menyelenggaran seminar Tiongkok, antarperadaban yang memiliki makna penting dan spesial. Peradaban kedua negara kita akan lebih dinamis dalam komuniasi dan membuka harapan baru," ujar dia.

Ji Bingxuan juga mengenalkan keistimewaan yang dimiliki peradaban Tionghoa. Ciri khas tersebut adalah mencari persamaan, mengesampingkan perbedaan, membentuk keharmonisan dant toleransi. Kebudayaan Tionghoa diciptakan oleh 56 suku di bumi Tionghoa dan menyerap hasil yang sangat unggul dalam kebudayaan manusia di dunia. Pembentukan kebudayaan atau peradaban Tionghoa adalah proses mengesampingkan perbedaan, membentuk keharmonisan dan toleransi.

"Kebudayaan Tionghoa selalu bersifat terbuka, tak pernah menolak atau menyingkirkan kebudayaan lain yang bermanfaat bagi manusia. Itu sebabnya kebudayaan Tionghoa bisa bertahan selama 5.000 tahun dan berkembang terus menerus," papar dia.

Ia mengatakan, suatu negara yang memiliki 56 suku atau etnis di lingkungan geografis, cuaca, hasil produk, dan adat istiadat berbeda, tetapi bisa mematuhi pimpinan. Selain itu, perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk mempertahankan keistimewaan kebudayaan yang berkarakter.

Jika dilihat dari kategori besar, kebudayaan Tionghoa adalah hasil campuran peradaban pertanian dan nomadik. Kedua peradaban itu bisa tersambung erat dan harmonis merupakan hasil perkembangan dan hasil ujian waktu. "Boleh dikatakan adalah hasil dari darah dan air mata," kata dia.

Mencari persamaan, mengesampingkan perbedaan, membentuk keharmonisan dan toleransi adalah kunci karena semua orang hidup di Bumi yang sama. Jika bisa saling menghormati maka akan bisa hidup bersaya bersama. Menurutnya, peradaban dan kebudayaan tidak kenal istilah mana yang lebih tinggi atau rendah, mulia atau hina. Peradaban patut dihormati siapapun dan dinikmati bersama.

"Tiongkok memprakarsai negara di dunia harus bersatu padu mengubah tekanan jadi daya dorong, bahaya jadi momentum, konfrontasi jadi kerja sama, da jadi kemenangan bersama. Tatanan internasional dan sistem pengelolaan global semacam apa yang paling bermanfaat  bagi dunia dan rakyat harus diputuskan oleh seluruh rakyat dan tidak tergantung seseorang dan sekelompok orang," kata dia.

Turut hadir dalam seminar tersebut Pembina CAFIU Hou Kai, Wakil ketua CAFIU Ai Ping, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian, Konsulat Jenderal RRT di Surabaya Gu Jingqi, Ketua Program Studi Hubungan International UIN Sunan Ampel Fathoni Hakim, Kepala Kantor Urusan Internasional dan Kerja Sama Universitas Wahid Hasyim Nanang Nurcholis. Hadir pula Overseas Member of All-China Federation of Returned Overseas Chinese yang juga Ketua Kehormatan Paguyuban Warga Tionghoa Bhakti Putera Yogyakarta Jimmy Sutanto.

Ketua Program Studi Hubungan International UIN Sunan Ampel Fathoni Hakim mengungkapkan seminar yang diselenggarakan merupakan hal yang luar biasa karena juga dihadiri tokoh penting. Ia menjelaskan relasi UIN Sunan Ampel dengan Pemerintah Tiongkok resmi dimulai ketika FISIP UIN Sunan Ampel mendirikan Pusat Kajian Indonesia Tiongkok pada 18 September 2018. Pusat kajian ini sukses berdiri berkat dukungan dari Konsulat Jenderal RRT di Surabaya.

"Tujuan dibentuknya pusat kajian tersebut adalah untuk menciptakan people to people connectivity baik dalam kerangka akademik, pendidikan, pengajaran, penetilian, dan pengabdian masyarakat maupun kerangka umum yang lebih luas sehingga akan tercipta dialog antarperadaban," ujar dia.

Ia menilai hal ini pas dengan semangat seminar yakni menciptakan harmoni melalui pertukaran budaya serta mempererat komunikasi antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok.