PPDB 2019 : Disdikpora DIY Kaji Penyebab Kuota Siswa di Sejumlah SMA Tak Terpenuhi

Ilustrasi PPDB. - JIBI
29 Juni 2019 21:47 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menganalisis penyebab masih adanya sekolah yang daya tampungnya belum terpenuhi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

Hingga Sabtu (29/6/2019) pukul 17.19 WIB, laman jejaring PPDB 2019 DIY masih menginformasikan adanya sekolah dengan daya tampung belum terpenuhi. Kekosongan itu akan diisi calon siswa dari zonasi terdekat yang akan diumumkan kemudian.

Kepala Disdikpora DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengungkapkan adanya sekolah yang belum terpenuhi daya tampungnya diduga akibat penerapan sistem zonasi yang baru. Sistem ini memberikan kesempatan siswa memilih tiga sekolah. Sehingga dipastikan ada anak yang terlempar dari sekolah yang mereka pilih.

Dugaan lainnya, orang dari luar DIY masih berpikir dua kali untuk menyekolahkan anaknya di DIY, mengingat sistem zonasi yang ketat. Namun hal itu bertolak belakang dengan data pendaftar luar DIY, yang jumlahnya cukup banyak.

"Kalau melihat daya tampung, sebetulnya masih ada yang belum bisa masuk ke sekolah negeri, kami masih menganalisisnya," kata dia, Sabtu.

Sistem PPDB saat ini masih berjalan, yakni memasukkan nama-nama anak yang tidak mendapatkan sekolah negeri, ke sekolah yang berada di zona terdekat anak tersebut berada. Bahkan, sudah ada sekolah yang mendapatkan peserta didik yang berasal dari zona dua, beberapa di antaranya SMAN 2 Jogja dan SMAN 11 Jogja.

Kebijakan memasukkan nama peserta ke sekolah yang belum terpenuhi daya tampung, juga berlaku bagi peserta PPDB dari luar DIY yang bekerja sama, misalnya Bayat, Klaten yang merupakan zona satu SMKN 1 Ngawen.

"Kalau pernah ambil token di Jogja, maka anak Klaten itu bisa juga diambil sistem. Kalau dia tidak ambil token di Jogja ya tidak diambil sistem, karena kami tidak memiliki data anak itu," ungkapnya.

Ketua Panitia PPDB DIY 2019 Jenjang SMA/K, Didik Wardaya, berharap ada kepastian berkelanjutan dari sistem PPDB. Harapan lainnya, lewat pelaksanaan PPDB 2019, maka input sekolah dari para pendaftar bisa merata. Selain itu, hasil input siswa PPDB ditindaklanjuti oleh masing-masing sekolah, untuk gaya pembelajaran.

"Dari PPDB inputnya ada anak pintar ada anak biasa saja. Untuk anak yang biasa, bisa didorong untuk bisa belajar semaksimal mungkin, serta dilakukan proses pembelajaran yang bisa mengakomodasi kondisi itu," tutur Didik.