Varietas Padi Ini Diklaim Bisa Hindari Risiko Gagal Panen

Ilustrasi kemarau di ladang pertanian - JIBI/Bisnis Indonesia/Rachman
02 Juli 2019 22:27 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Varietas padi inpari 19 diklaim dapat menjadi alternatif saat musim kemarau guna menghindari gagal panen. Masa panen varietas padi inpari 19 lebih cepat.

Pada kemarau tahun ini, 1.918 hektare padi di Gunungkidul gagal panen atau puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan padi inpari 19 termasuk padi genjah yang bisa dipanen setelah berumur 105 hari. “Karena varietasnya tergolong umur pendek bisa jadi alternatif,” ujarnya, Selasa (2/7)

Bambang mencontohkan keberhasilan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari. Padi yang ditanam di sawah seluas 20 hektare punya rata-rata produksi sekitar 8,4 ton per hektare.

“Yang dilakukan oleh petani ialah menerapkan budi daya padi hemat air serta manajemen waktu tanam disesuaikan perkiraan iklim BMKG,” kata dia.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menyatakan sebagian besar petani di Gunungkidul berhasil panen.

“Luas tanaman padi musim tanam kedua 8.736 hektare, artinya yang panen lebih banyak,” tuturnya.

Menurutnya, padi puso karena kekurangan air akibat musim kemarau. Padi yang puso berada di daerah yang tidak memiliki sumber air. Banyak juga padi puso di sawah tadah hujan yang pengairannya mengandalkan air hujan. Musim kemarau datang lebih awal sehingga suplai air di lahan pertanian sangat kurang.