Desa Giripeni Berpesta Rayakan Panen Raya

Ratusan warga mengikuti kirab budaya wiwit panen padi Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Kamis (4/7/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
05 Juli 2019 12:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Para petani di Desa Giripeni, Kecamatan Wates tengah berbahagia. Dalam masa panen padi kedua tahun ini, lahan pertanian seluas 52 hektare milik mereka mampu menghasilkan delapan ton gabah kering tiap hektarenya.

“Kami [petani] sangat senang dengan hasil panen karena ada peningkatan dibandingkan saat masa panen pertama kemarin,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Giripeni, Untung Suharjo, di sela-sela acara Panen Raya Padi Desa Giripeni, Kamis (4/7/2019).

Dia mengungkapkan pada masa panen sebelumnya, Gapoktan Giripeni hanya mampu memperoleh 7,5 ton gabah kering per hektare. Hal itu disebabkan karena serangan hama sehingga banyak tanaman mati. Sedangkan untuk masa panen kedua yang jatuh di awal Juli 2019, terjadi peningkatan.

Sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah, Gapoktan Giripeni menyelenggarakan upacara adat wiwit panen. Kegiatan ini dipusatkan di area persawahan desa setempat. Upacara itu diawali dengan kirab budaya.

Peserta kirab membawa hasil bumi untuk kemudian dimakan bersama-sama dengan para tamu yang hadir. Adapun acara ini turut dihadiri instansi pemerintah, di antaranya, Dinas Pertanian DIY dan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo Aris Nugraha mengatakan lahan pertanian padi di Kulonprogo pada Juni hingga Juli tahun ini memang sedang memasuki masa panen kedua. Total luas tanam mencapai 10.000 hektare dengan potensi produksi hingga 42.000 ton beras.

Jika panen raya lancar, maka kebutuhan pangan khususnya beras di Kulonprogo dipastikan aman. “Diharapkan dengan panen ini stok padi di Kulonprogo aman dan mempertahankan surplus beras,” ucapnya.

Aris menegaskan instansinya akan mengawal proses panen raya ini supaya produksi padi di Kulonprogo tercukupi. Antisipasi hama serta kekeringan terhadap lahan persawahan juga bakal menjadi perhatian.

“Dinas akan mengawal terus sampai panen semua, termasuk mengantisipasi hama dan kekeringan yang potensinya mencapai 200 hektare. Kami [Disperpangan] sudah menjalin kerja sama dengan DPUKP terkait dengan pengairan sawah,” ujarnya.