Paguyuban Kesenian Ketoprak Tunanetra: Pagi Berlatih, Sore Memijat

Kelompok ketoprak Destra Budaya saat berlatih untuk tampil dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
07 Juli 2019 20:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Destra Budaya, kelompok ketoprak yang anggotnya penyandang tunanetra, akan tampil dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019. Bagaimana persiapan mereka setelah lama vakum? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Di bawah terik Matahari, belasan anggota Paguyuban Kesenian Ketoprak Destra Budaya berkumpul di rumah ketua paguyuban, Harjito Wijanarko, Senin (1/7/2019).

Tempat tinggal Harjito terletak di sebuah gang yang tak terlalu luas, kira-kira hanya dua langkah manusia. Di dalam gang itu, anggota sibuk meraba-raba dinding sambil menenteng alat musiknya masing-masing.

Ada yang membawa kendang, bass dari paralon, bahkan beberapa dari mereka bergotong royong mengangkat lesung dari dalam kediaman Harjito untuk diletakkan di sisi kanan gang, persis di depan pintu rumah Harjito. Sembari meraba-raba sekeliling, mereka sibuk mengatur posisi masing-masing agar alat-alat musik itu tidak saling tumpang tindih di dalam gang.

Setelah alat musik siap, duduk lah mereka di depan alat musik masing-masing sambil bersenda gurau. Salah satu dari mereka merogoh ponsel yang berbunyi di dalam saku celananya. Sejenak dia meraba tombol ponselnya dan terkekeh-kekeh sambil berkata, “Sebentar ya, sedang latihan ketoprak di tempat Pak Har, mungkin baru bisa memijat bapak nanti sore. Nggih, nggih, saya tutup dulu nggih.”

Dari dalam kediaman Harjito, dialog-dialog ketoprak mulai dilafalkan anggota yang mendapat tugas memerankan tokoh-tokoh ketoprak. Anggota yang telah bersiap di depan alat musik masing-masing mulai saling bercanda sambil berbisik dan tertawa-tawa kecil. Tak lama kemudian, Getir, sang sutradara naskah, mendekat ke daun pintu rumah Harjito untuk menyambangi mereka.

“Ayo, mana suara musiknya kok enggak ada? Wah, telat masuk nih musiknya. Ulangi lagi yang konsentrasi.” kata Getir sambil mengomando anggota lainnya yang berada di dalam kediaman Harjito.

“Lah, bunyi kendangnya ini yang telat, semua jadi ikut telat,” kata salah seorang anggota yang menanggapi Getir.

Dia tertawa-tawa sambil menepuk bahu sang pemain kendang. Dia menggenggam alat musik yang terbuat dari beberapa koin dan tutup botol bekas. “Sudah sudah, jangan saling menyalahkan. Kalau akustik memang kita semua harus konsentrasi. Ayo ulangi lagi yang kompak,” kata Getir.

Mereka langsung siap dengan alat musik masing-masing. Suara kendang bertalu-talu, tak lama kemudian suara bass dari paralon mengikuti aliran irama kendang bersama suara gejog lesung. Setelah alunan musik selesai, dialog-dialog ketoprak mulai disuarakan kembali. Terkadang di tengah dialog, mereka berhenti untuk mendiskusikan bunyi dari beberapa instrumen musik yang dirasa kurang pas di telinga. Misalnya komposisi bass yang terlalu mendominasi, atau tempo ketukan gejog lesung yang kurang membaur dalam irama musik.

Di sela-sela latihan, Haryanto, seorang anggota paguyuban asal Baleharjo, Gunungkidul, sibuk berdiskusi bersama dua pemain gejog lesung lainnya. Beberapa kali mereka memainkan irama gejog lesung tanpa bunyi alat musik lainnya untuk mencocokkan tempo dan irama. "Soalnya kalau satu ketukan saja keluar dari irama musik lainnya akan langsung terdengar enggak enak. Bubar satu, bubar semua. Harus langsung diperbaiki. Ya begini ini kalau musiknya akustik memang harus kompak, mengandalkan perasaan. Jadi cara kami merasakan irama dan ketukannya harus sama," kata Haryanto.

Haryanto berkali-kali merogoh ponselnya, meraba tombol-tombol ponselnya dengan sabar dan mengetikkan sesuatu di layar chat Whatsapp. Haryanto tertawa kecil, sambil tetap sibuk mengetik pesan dia bercerita bahwa masih banyak pelanggan setia dari jasa pijatnya yang menanyakan ke mana dirinya pergi. Biasanya pagi hingga siang hari, Haryanto sudah berkeliling di beberapa permukiman untuk menawarkan jasa pijatnya. Namun khusus dua minggu ke depan, Haryanto akan memulai jasa pijatnya pada sore hari hingga jelang magrib saja.

"Harus konsentrasi soalnya. Jadi rata-rata dari kami memang meliburkan jasa pijat buat latihan. Ada juga yang milih kayak saya, baru mulai sore nanti," kata Haryanto.

Di depan Haryanto, sebuah ponsel tergeletak di pangkuan pemain kendang. Aplikasi perekam suara bekerja mendokumentasikan seluruh percakapan, suara musik dan diskusi mereka hari itu. Seusai berlatih, mereka akan bersama-sama mendengarkan musik mereka untuk bahan diskusi. Bahkan ada salah satu anggota yang bertugas mencatat notasi dari komposisi musik hari itu dalam bentuk braille. Tujuannya supaya perkembangan latihan bisa dipantau oleh seluruh anggota.

Penampilan Pertama

Saat latihan berjalan mulus dan anggota sudah semakin fokus berlatih, Harjito dan Getir saling bergandengan keluar dari rumah dan menuju kursi kayu panjang yang ada di sisi kanan gang. Di sana mereka bercerita tentang proses latihan ketoprak sembari beristirahat.

"Ini pentas pertama setelah berbulan-bulan tidak pentas. Ya, bagi mereka itu sudah lama sekali. Kami memang tetap kumpul tetapi enggak pernah latihan rutin. Makanya dalam proses latihan kali ini semangat mereka harus dibangkitkan lagi," kata Harjito.

Menurut Harjito pentas ketoprak yang akan ditampilkan di Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) pada pertengahan Juli ini harus mengangkat konsep yang berbeda dari pementasan sebelumnya. Harjito kemudian mengajak anggotanya meracik musik akustik untuk mengiringi dialog-dialog ketoprak. Sebab beberapa tahun belakangan, paguyuban ini lebih banyak menggunakan gamelan sebagai pengiring ketoprak.

"Kalau memainkan musik akustik mereka juga sudah pernah, sudah terbiasa, tetapi sudah lama enggak dipakai. Nah, aransemen musiknya juga bikin sendiri. Ini masih mencocok-cocokkan bunyi antaralat musik supaya terdengar enak, kalau ada yang kurang pas ya diganti ketukan atau iramanya," kata Harjito.

Senin, Selasa dan Kamis pagi menjadi waktu latihan mereka untuk pementasan ketoprak di FKY 2019. Menurut Harjito, pagi adalah waktu yang paling pas. Malam hari transportasi sudah jarang, sehingga akan menyusahkan anggota yang datang dari Gunungkidul dan Kulonprogo.

Selain itu, Harjito merasa tidak enak hati jika anggota paguyuban yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri itu harus berdesakan di gang rumahnya dalam kondisi gelap.

"Syukurlah kawan-kawan terlihat semangatnya. Iya, pentas FKY besok seakan merayakan kembalinya kami, karena sempat lama vakum. Pentas kali ini, kami hanya punya waktu tiga kali latihan sebelum gladi bersih. Untung teman-teman sudah terbiasa cepat mengikuti latihan," kata Harjito.

Di sisi kiri Harjito, tangan keriput Getir si sutradara ketoprak sibuk membolak balik halaman buku tulis bersampul aneka tokoh kartun. Di setiap lembaran kertasnya terdapat coretan pena hitam membentuk notasi musik. Ada juga catatan-catatan kecilnya saat mengamati latihan ketoprak Paguyuban Destra Budaya. Getir kemudian mendekatkan wajahnya ke kertas buku tulis itu, Getir mengatakan jarak pandangnya sangat dekat.

Sementara tangan Getir sibuk menulisi kertas itu dengan pena.

Dia bercerita bahwa mereka punya cerita menarik yang akan ditampilkan dalam FKY 2019. Cerita yang Getir tulis menyesuaikan tren fenomena baru-baru ini. Tentang seorang rakyat biasa yang mencintai dan sangat dicintai rakyat kecil yang kemudian diangkat menjadi patih. Namun dalam prosesnya menuju jabatan itu, banyak huru-hara yang harus dilalui si tokoh.

Getir tertawa kecil memamerkan barisan giginya yang tak lagi utuh saat menceritakan bocoran konflik dalam ceritanya. "Si Patih ini kalau di Indonesia sudah kayak wakil presiden. Pokoknya, dia didukung rakyat, tetapi kalau mau jadi patih harus diputuskan di meja hijau. Itu yang sulit. Kayak di sini harus melalui Sidang MK dulu. Pokoknya pertunjukan akan menyenangkan," kata Getir.