Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Penyakit Ginjal dari Jahe Merah

Salah seorang anggota tim sedang menunjukkan ZAHA dalam kemasan, obat penyakit ginjal dari jahe merah, di ruang rapat kantor Humas dan Protokol UGM, Selasa (9/7/2019) - Harian Jogja/Uli Febriarni
09 Juli 2019 21:47 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengolah jahe merah menjadi obat penghambat penyakit ginjal kronis, dengan faktor risiko hipertensi.

Pengembangan formula yang diberi nama ZAHA tersebut dilakukan oleh Nada Hanifah, mahasiswa FKH UGM bersama dengan Yusuf Farid Achmad (FKH) dan Aida Humaira dari Fakultas Farmasi.

Aida Humaira menjelaskan, jahe merah mengandung sejumlah senyawa seperti gingerol, shogaol, flavonoid serta aktivitas antioksidan tinggi. Senyawa-senyawa tadi dapat menghambat enzim penyebab vasokonstriksi dan menurunkan tekanan darah.

"Kandungan antioksidan pada jahe merah juga menurunkan stress oksidatif. Sehingga menghambat kerusakan pada ginjal," ujarnya di hadapan wartawan, Selasa (9/7/2019).

Ia menambahkan, ekstrak jahe merah diformulasikan dengan teknologi nanoemulsi. Untuk meningkatkan solubilitas, stabilitas, serta efektivitas dari ekstrak jahe merah.

Nada Hanifah mengungkapkan, pengembangan ZAHA dilakukan di bawah bimbingan Prof.Siti Isrina Oktavia Salasia. Penelitian dilatarbelakangi keprihatinan mereka terhadap penderita penyakit ginjal kronis.

"Penyakit ini merupakan penyakit yang timbul secara perlahan dan bersifat menahun. Penyebab terbanyak kedua adalah hipertensi sebanyak 25 persen," ungkapnya.

Peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal, bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai, lanjut Nada.

Oleh sebab itu, tim berupaya membuat sebuah formula dari bahan alam yakni jahe merah sebagai bahan untuk pengobatan penyakit tersebut.

Jahe merah merupakan tanaman herbal yang telah dikenal dan dikonsumsi secara turun temurun oleh masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan, tingkat kerusakan ginjal yang terjadi pada model hewan tikus dapat dihambat.

"Terjadi penurunan tekanan darah yang signifikan dibandingkan kelompok perlakuan tanpa ZAHA,” tambahnya.

Yusuf Farid Achman menuturkan, penelitian yang merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta 2019 itu, berhasil mendapatkan dana hibah pengembangan dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti.

Tim berharap hasil penelitian yang mereka lakukan dapat dikembangkan lebih lanjut. Dengan begitu dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan penyakit ginjal kronis dengan faktor hipertensi.