Rusunawa di Sleman Perlu Ditambah?

Ilustrasi. - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
18 Juli 2019 02:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Staf Seksi Perumahan Formal Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Sleman Christ Bangun Dwi Samekto menyatakan saat ini DPUPKP baru dalam tahap dalam membuat kajian mengenai kebutuhan rusunawa. Setelah kajian itu selesai dibuat, nantinya bisa diambil upaya dalam menentukan perlu tidaknya membuka rusunawa lagi.

Upaya tersebut diambil karena berangkat dari keterbatasan lahan dan mendorong konsep hunian vertikal yang kini banyak dikembangkan. Konsep ini didorong mengingat Kabupaten Sleman merupakan daerah penyangga resapan air di DIY, utamanya untuk wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Bantul.

Christ Bangun mengatakan, bagi masyarakat berpenghasilan rendah, konsep yang ditawarkan adalah rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Sedangkan, masyarakat dengan penghasilan menengah ke atas, diarahkan untuk memiliki hunian rumah susun sederhana milik (rusunami), dan apartemen.

"Pusat selalu menawarkan [pembangunan rusunawa] tapi kami masih terkendala masalah lahan. Sebagai gantinya, disalurkan ke yayasan atau kampus untuk hunian mahasiswa," kata Christ Bangun di kantor DPUPKP Kabupaten Sleman, Rabu (17/7/2019).

Christ Bangun mengatakan, dari segi teknis, pembangunan gedung rusunawa menggunakan dana dari pusat.

Christ Bangun melanjutkan, peran pemerintah daerah adalah lebih kepada penyediaan lahan, dan prasarana dasar semisal musola dan taman. Namun, kini pembangunan rusunawa dihentikan untuk sementara waktu lantaran kesulitan mencari lahan.

"Satu tower rusunawa butuh lahan setidaknya 5.000 meter persegi. Selama ini, lahannya menggunakan kas desa dengan sistem sewa," ungkap Christ.

Christ Bangun menjelaskan, di Kabupaten Sleman saat ini terdapat 11 tower rusunawa yang tersebar di empat lokasi yakni Dabag Condongcatur, Jongke Sendangadi, Gemawang Sinduadi, dan Mranggen Sinduadi.

"Keseluruhan terdapat lebih dari 1.000-an unit hunian pada rusunawa tersebut," terangnya.

Ketua DPD REI DIY Rama Adyaksa Pradipta, mengatakan menurut pandangan REI, rusunawa tetap dibutuhkan sebagai jembatan pra-kepemilikan rumah bagi masyarakat.

"Jadi rusanawa memang perlu bagi mereka yang belum mampu membeli dan memiliki rumah secara permanen," kata Rama.

Rama mengatakan, para alumnus rusunawa akan menjadi potensi captive market bagi properti Rumah Susun Sederhana Milik (rusunami) atau apartemen yang disuplai REI.

"Masih belum cukup, setidaknya 10 persen dari total backlog DIY sebesar 252.000 bisa diwadahi di dalam rusunawa," ungkapnya.

Rama menegaskan, Sleman mendominasi kebutuhan berdasarkan sebaran dan kepadatan penduduk.