Kenalkan Kebudayaan Tionghoa di Ruang Publik Malioboro

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (depan tengah) dalam Dialog Budaya & Gelar Seni Yogya Semesta Seri-119 bertema Malioboro, Ruang Kreativitas Publik di pintu gerbang barat kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (23/7) malam./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
25 Juli 2019 12:27 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) mengapresiasi kehadiran ruang publik sepanjang Malioboro dalam momentum car free day dan program reresik Selasa Wage. Melalui momentum ini, masyarakat yang memadati kawasan Malioboro pun bisa mengenal kebudayaan Tionghoa.

Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto mengungkapkan menjadikan Malioboro sebagai panggung pertunjukan pada momentum Selasa Wage ini perlu diapresiasi. Menurutnya, dalam momen tersebut tidak hanya seni dan budaya DIY yang ditampilkan, tetapi juga ragam seni budaya Nusantara.

"Salah satunya pertunjukan budaya ada kesenian Tionghoa seperti atraksi barongsai dan liong yang sangat diminati masyarakat maupun pengunjung di Malioboro," kata dia ketika ditemui di sela-sela Dialog Budaya & Gelar Seni Yogya Semesta Seri-119 bertema Malioboro, Ruang Kreativitas Publik di pintu gerbang barat kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (23/7) malam.

Jimmy mengungkapkan panggung pertunjukan di Malioboro yang menghadirkan berbagai atraksi seni budaya mampu menjadi magnet bagi pengunjung ataupun wisatawan. Hal ini menjadi tambahan agenda yang bisa dinikmati masyarakat serta wisatawan.

Ia mengatakan momen Selasa Wage menjadi kesempatan lain bagi pelaku kesenian Tionghoa untuk menunjukkan kebolehannya dan dikenal masyarakat maupun wisatawan. "Jadi, selain tampil dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta [PBTY] yang sudah menjadi agenda rutin tahunan di Kampung Ketandan Malioboro, ajang Selasa Wage ini juga bisa dimanfaatkan," terang dia. 

Poros Ekonomi & Budaya

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menjelaskan saat ini pihaknya baru memulai untuk menemukan bentuk yang sesuai bagi penataan kawasan Malioboro. Karena itu, jika melihat sekarang ini, seluruh masyarakat ingin tampil dalam momen Selasa Wage.

"Adanya Malioboro sebagai ruang kreatif publik ini diharapkan mampu berperan sebagai inspirator lingkungan yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat. Ruang publik ini juga diharapkan sebagai pembentuk mindset dan moodset kreatif," papar dia.

Ia berharap pertunjukan kesenian ini tidak hanya Selasa Wage tetapi setiap hari atau pada hari-hari tertentu ada panggung di Malioboro sehingga porosnya tidak hanya poros ekonomi tetapi juga budaya. Heroe mengatakan konsep awal menghadirkan panggung-panggung pertunjukan tidak hanya sebatas ditampilkan pada Selasa Wage, tetapi juga bisa ditampilkan pada hari-hari tertentu.

Ia mengatakan ke depan diperlukan kurasi dan seleksi terhadap kesenian yang ingin tampil di sepanjang Malioboro. Saat ini masyarakat masih semangat dan berlomba-lomba ingin mengisi di Selasa Wage.

"Kita ingin yang tampil di Malioboro adalah yang layak jadi tontonan dan sebagai wujud ekspresi budaya, tidak asal-asalan. Kita bagi mana atraksi yang tradisional, modern, dan pemula. Semua difasilitasi dan diwadahi tetapi tetap diatur," terang dia.

Heroe mengatakan banyaknya masyarakat di Malioboro pada momentum Selasa Wage karena antusiasme mereka yang baru senang-senangnya. Selasa Wage awalnya berfokus pada ritual reresik atau menjaga kebersihan di Malioboro. Saat ini lambat laun mulai dihidupkan sebagai panggung pertunjukan terpanjang kesenian.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY Ahmad Saifudin Mutaqi mengatakan ruang kreatif harus dimulai dari proses kreatif sampai lahirnya ruang kreatif . Ruang kretif juga harus memicu timbulnya orang-orang kreatif yang melakukan pekerjaan-pekerjaan kreatif di dalamnya. "Ketika cerita proses kreatif melahirkan orang kreatif dan ruang kreatif dan di dalamnya adalah orang-orang kreatif berperilaku maka itulah sejatinya yang disebut ruang kreatifnya Malioboro," terang dia.

Ahmad menjelaskan Malioboro harus dilihat secara utuh apabila akan dijadikan sebagai ruang kreatif. Oleh karena itu, harus dilihat dari segi proses hingga menghasilkan karya. Upaya mewujudkan Malioboro sebagai ruang kreatif sejak awalnya sudah merupakan bagian dari proses kreatif.

"Sekarang ini yang diinginkan adalah orang-orang yang lahir dari ruang kreatif adalah orang kreatif. Namun, hal itu belum menjadi sesuatu yang mewujud karena masih ada budaya-budaya seperti buang sampah sembarangan sehingga masih memerlukan proses edukasi," terang dia.