Ekspedisi Destana Tsunami Gunakan Pendekatan Kearifan Lokal

Kegiatan pembekalan peserta ekspedisi destana tsunami, Rabu (24/7/2019). - Harian Jogja/Sunartono.
25 Juli 2019 08:07 WIB Sunartono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami telah memasuki wilayah DIY setelah menghabiskan rute di sepanjang pesisir Jawa Timur dan Jawa Tengah, Rabu (24/7/2019). Ekspedisi yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami ini menggunakan pendekatan kearifan lokal.

Ekspedisi ini telah dimulai sejak 12 Juli 2019 dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan akan melewati 584 desa, 24 kabupaten dan kota pada lima provinsi. Rencananya akan berakhir pada 17 Agustus 2019 mendatang di Serang, Banten. Ekspedisi ini melibatkan berbagai pihak mulai dari lembaga usaha, masyarakat, akademisi hingga media massa.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan menjelaskan pelaksanaan ekspedisi ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami. Selain itu untuk melihat kesiapan mereka, baik dari sisi pemahaman informasi tsunami maupun kondisi infrastruktur untuk evakuasi.

"Ketika ada informasi dari BMKG, mereka [masyarakat di wilayah rawan tsunami] mampu dan bisa merespons itu dengan baik termasuk menterjemahkan. Karena yang paling paham medan lokasi itu warga sendiri, misalnya rumah saya di dekat bukit ini, saya akan lewat jalur ini. Nah jalur evakuasi ini mereka lebih paham daripada kami yang membikinkan," katanya di sela-sela pembekalan Tim Ekspedisi Destana Tsunami Segmen II DIY di Pantai Sadeng, Gunungkidul.

Oleh karena itu, kata Lilik, upaya yang dilakukan sangat kental dengan kearifan lokal dengan menyesuaikan kondisi masyarakat setempat. Ia meyakini, masyarakat lokal lebih menguasai cara mengevakuasi diri dengan tepat ketika terjadi bencana. Kondisi demikian itulah yang harus diberikan penguatan, salah satunya melalui program ekspedisi destana tsunami yang saat ini berjalan.

Ia mengatakan, selama ekspedisi di wilayah DIY masyarakat setempat dilibatkan dengan berbagai cara untuk memahamkan terkait bencana tsunami. Mulai dari pentas seni rakyat yang nantinya akan mengambil tema terkait kesiapsiagaan.

"Kami mengedepankan kearifan lokal dan budaya, setiap titik ada panggung ekspedisi yang menampilkan kesenian lokal. Kemudian pemutaran film tema tsunami yang nanti ada akademisi yang memberikan penjelasan, agar bisa paham," katanya.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana menambahkan di wilayah DIY sebenarnya ada 52 desa yang berada di sepanjang pesisir selatan. Akan tetapi dalam ekspedisi kali ini hanya 39 desa yang disasar karena dinilai paling terdampak jika terjadi tsunami. Selain destana, sekolah di setiap lokasi rawan tsunami juga disiapkan sebagai sekolah siaga bencana.

"Pembentukan destana sendiri dimulai dari memetakan potensi ancaman hingga jalur evakuasinya," ujarnya.

Ia mengatakan, wilayah rawan tsunami di DIY tergantung kondisi geografis. Ada wilayah yang landai seperti Kulonprogo tentu ancamannya lebih besar dibandingkan di daerah yang ada perbukitan. "Tetapi perbukitan ini juga jangan diremehkan karena ketika bentuknya cekungan, justru terjadi akumulasi energi sehingga menimbulkan kerusakan besar, artinya tetap harus dipersiapkan," ujarnya.