Warga Afganistan Belajar Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Sleman

Delegasi Afghanistan saat mengunjungi Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) di Sumbersari, Moyudan, Selasa (30/7/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
30 Juli 2019 19:37 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Delegasi dari Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan mengunjungi Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) di Sumbersari, Moyudan, Sleman Selasa (30/7/2019). Kunjungan tersebut dilakukan untuk belajar secara langsung terkait pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi.

Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Ekonomi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Muhammad Ihsan mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama bilateral antara Kementerian PPPA bersama Pemerintah Afghanistan yang didukung Pemerintah Jerman melalui lembaga Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

“Dari delagasi Pemerintah Afghanistan sebanyak lima orang, dan dari GIZ sebanyak dua orang,” kata dia kepada Harianjogja.com, Selasa (30/7/2019).

Dalam kerja sama tersebut, Ihsan mengatakan, masing-masing negara mempunyai peran yang berbeda. Pemerintah Indonesia dari sisi substansi pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi, Jerman dari sisi supporting dan technical asistant, sementara Afghanistan lebih kepada penerima manfaaat.

“Dalam kunjungan ini delegasi Afghanistan ingin melihat pemberdayaan perempuan di aspek ekonomi seperti apa. Dan mereka belajar banyak tentang Desa Prima yang sudah berjalan di Sleman ini,” kata Ihsan.

Lebih lanjut, Ihsan mengatakan, DIY dijadikan sebagai tempat yang dikunjungi karena sudah melakukan pengembangan industri berbasis desa.

“Karena memang fokusnya pada industri rumahan, dan Jogja ini sudah melakukan pengembangan industri berbasis desa,” ujar dia.

Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3AP2 DIY Nelly Tristiana mengatakan saat ini ada 100 Desa Prima yang ada di DIY. Dinasnya, kata dia, setiap tahun menargetkan untuk menambah 15 Desa.

“Karena kalau perempuan yang mampu berdaya secara ekonomi, akan berdampak kepada pendidikan anak, kesehatan keluarga, ekonomi keluarga, tidak  selalu perempuan bergantung kepada lelaki, sehingga bisa membantu beban lelaki,” kata dia.

Dalam membentuk Desa Prima, ia mengatakan, dilakukan bergantung potensi lokal. Desa Prima di Sumbersari, kata dia, memiliki potnesi lokal padi dan umbi-umbian sehingga produk yang dihasilkan tidak jauh dari potensi tersebut.

“Desa prima model pembentukan itu tiga tahun. Tahun pertama itu inisiasi dan pelatihan. Tahun kedua diberi hibah dari Gubernur hingga Rp37 juta untuk digulirkan sebagai modal kelompok, tahun ketiga monitoring, dan tahun keempat serahkan kepada kabupaten,” kata dia.