Kemarau Bikin Omzet Peternak Ikan di Sleman Merosot

Salah seorang anggota KPI Mina Sayur, Sarjiyanto memberi makan ikan di kolam milik kelompoknya, di Dusun Warak Lor, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Sabtu (9/8/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
11 Agustus 2019 18:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Tidak hanya pada sektor pertanian, musim kemarau juga berdampak negatif pada sektor perikanan. Minimnya pasokan air membuat omzet perikanan menurun.

Salah seorang anggota Kelompok Pembudi Daya Ikan (KPI) Mina Sayur, Dusun Warak Lor, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Sleman Sarjiyanto, mengatakan KPI Mina Sayur memiliki sekitar 50 kolam ikan. Akibat berkurangnya pasokan air, beberapa kolam ikan terpaksa dikosongkan. “Biasanya ikannya komplet, tapi saat kemarau seperti sekarang, hanya nila dan bawal, karena perputarannya cepat. Itu untuk ikan konsumsi ataupun bibit,” kata dia, Sabtu (9/8/2019).

Selain pasokan air yang berkurang, pada musim kemarau, suhu air juga menjadi dingin, hal tersebut membuat nafsu makan ikan menjadi berkurang. “Jadi ikan itu makannya sulit, besarnya lama, tidak seperti musim hujan,” ucap dia.

Begitu pula dengan masa panen ikan, diakuinya juga mundur dari jadwal. Jika biasanya dalam empat bulan ikan nila untuk konsumsi bisa dipanen, maka saat kemarau baru pada usia lima bulan bisa dipanen. “Akibatnya omzet juga menurun. Biasanya dalam sehari, omzet bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Saat ini hanya tak lebih dari Rp600.000,” ucap dia.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Sri Purwaningsih mengatakan produksi ikan paling maksimal pada musim penghujan, pada musim kemarau produksi ikan tetap ada, meskipun tidak banyak. “Tahun lalu, produksi budi daya perikanan di Sleman ditarget sebanyak 59.000 ton dan berhasil dicapai. Pada 2019 ini, produksi ikan ditarget naik menjadi 62.000 ton,” ujar dia.

Secara keseluruhan, di Sleman hingga kini terdapat 637 KPI dengan total luas lahan kolam 1.130 hektare dan 108 hektare luas lahan minapadi.

Dia menjelaskan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ikan, khususnya ikan nila, yakni melalui Sistem Budi Daya Ikan Nila dengan Sentuhan Teknologi Kincir Air (Sibudidikucir) yang saat sudah ada cukup banyak di wilayah Sleman. “Apalagi pada musim kemarau yang debit air itu tergolong kecil,” kata Sri.

Itulah sebabnya, teknologi Sibudidikucir diharapkan bisa meningkatkan kadar oksigen di dalam air. “Aliran air kecil saja bisa. Kalau musim penghujan tanpa Sibudidikucir masih bisa jalan. Kalau kemarau kan keterbatasan air,” ucap dia.