Kekeringan Ekstrem Tahun Ini, BMKG Pertimbangkan DIY Diguyur Hujan Buatan

Ilustrasi kemarau di ladang pertanian - Bisnis Indonesia/Rachman
21 Agustus 2019 17:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) DIY tengah mempertimbangkan untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan di wilayah yang terdampak kekeringan seiring dengan mundurnya masa musim penghujan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas mengatakan berdasarkan pantauan BMKG pada Agustus tahun ini sudah mengalami kekeringan meteorologis level ekstrem sejak awal kemarau pada April lalu karena ada beberpa daerah yang sudah lebih dari 60 hari tidak hujan, bahkan ada yang lebih dari 130 hari tanpa hujan seperti di Bantul.

“Kondisi itu dapat berdampak lanjutan pada kekeringan pertanian dan kekurangan air bersih. Selain itu ancaman gagal panen bagi wilayah wilayah pertanian yang mengandalkan tadah hujan,” kata Reni, dalam paparannya di acara penanganan kekeringan yang digelar ACT di Bambu Resto, Banguntapan, Bantul, Rabu (21/8/2019).

Dalam paparannya, hampir semua wilayah di Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan sebagian Sleman yang mengalami kekeringan.

Reni mengatakan prediksi pembentukan awan hujan akan terjadi pada November, Desember dan meningkat lagi di Jauari-Februari. Sementara Oktober sudah terbentuk awan hujan namun masih sedikit. Pada Agustus ini merupakan puncaknya kemarau. Menurut dia, anomali suhu dan fenomena elnino menjadi penyebab berkurangnya intensitas curah hujan.

“Kemarau sekarang bertambah panjang. Mundur 1-2 dasarian [10-20 hari] pada normalnya,” kata dia.

Reni mengatakan tidak adanya hujan lebih dari 60 hari berturut-turut, bahkan sampai 128 hari menjadi warning bagi masyarakat untuk waspada akan dampaknya seperti kekurangan air. pihaknya juga berharap ada mitigasi dalam menangani dampak kemarau.

Saat ini BMKG juga tengah mempertimbangkan kemungkinan merekomendasikan adanya upaya membuat hujan buatan di wilayah yang terdampak seperti Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Namun upaya membuat hujan buatan tidak bisa dilakukan saat puncak kemarau karena tidak adanya bibit awan konvektif untuk memicu adanya hujan buatan. Efektinya dilakukan hujan buatan pada musim pancaroba sekitar akhir September atau awal Oktober mendatang.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) DIY dan badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk membuat hujan buatan. “Posisinya sekarang stanby tetap siap ditempat masing-masing, kalau ketiganya [BPPT, BMKG dan BPBD] menyetjui dilakukan TMC pada September-Oktober, maka bisa dilakukan,” kata Reni.

Lebih lanjut Reni menjelaskan bahwa hujan buatan merupakan metode penyemprotan urea pada awan konvektif atau bibit hujan agar terjadi hujan. Namun metode tersebut juga tergantung arah angin, karena jika disemprotkan di daerah kering namun anginnya kencang bisa jadi turun hujannya justeru di luar wilayah. “Misalnya ditembakkan di wilayah Bantul kalau anginnya kencang bisa jadi turun hujannya di Solo,” kata Reni.