Lansia Gunungkidul Belum Banyak Terjangkau Program Kreatif

Ilustrasi lansia - JIBI
26 Agustus 2019 00:27 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penduduk lanjut usia (lansia) di Gunungkidul belum terjangkau banyak program kreatif dari pemerintah seperti paket layanan lansia dalam jaminan kesehatan nasional, posyandu lansia, public-private partnership, jaminan hari tua dan jaminan pensiun berbasis kontribusi, serta perlindungan bagi lansia rentan yang terintegrasi dengan bantuan sosial lainnya.

Jumlah penduduk lansia di DIY tertinggi se-Indonesia menurut data BPS tentang Stastik Penduduk Usia Lanjut pada 2018. DIY menduduki peringkat pertama dengan presentase 12,37%.

Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gunungkidul, Wijang Eka Aswarna, mengatakan mayoritas lansia yang hidup di Gunungkidul dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Kebanyakan dari mereka mengalami keterasingan.

“Lansia hanya hidup berdua atau seorang diri,” ujarnya kepada Harian Jogja, Minggu (25/8/2019).

Menurutnya, program kreatif untuk lansia didasari pada persoalan yang mereka, yakni terasing, tidak beraktivitas, dan tergantung secara fisik serta ekonomi.

Anggota DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho, menyebut keterbatasan warga lansia membuat masa depan mereka harus disiapkan dari sekarang. “Kalau tidak dipersiapkan akan menambah beban anggaran bantuan sosial,” katanya.

Lansia berisiko terhadap penyakit degeneratif, produktivitas rendah, dan tidak punya jaminan hari tua.

“Hal tersebut bisa membebani generasi produktif, yaitu anak atau cucu mereka,” ucap dia.

Jumlah lansia telantar di Gunungkidul berdasarkan data Dinsos Gunungkidul pada 2015 ada 13.249 orang, 2016 naik menjadi 18.366 orang, 2017 menjadi 18.420 orang, dan 2018 turun menjadi 16.992 orang.