AP I Siapkan Kawasan Aerocity dengan Konsep Bisnis dan Pelayanan

Suasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
26 Agustus 2019 08:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Angkasa Pura (AP) I siap mengembangkan lahan seluas 86 hektar di Temon, Kulonprogo sebagai Kawasan Aerocity. Rencananya, kawasan tersebut berkonsep bisnis dan pelayanan.

Direktur PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi mengatakan, setelah Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) beroperasi penuh di 2020, kawasan sekitarnya harus berkembang guna mendukung aktivitas bandara.

"Kami kan punya lahan 86 hektar sekitaran bandara. Rencananya dikembangkan menjadi Kawasan Aerocity. Kita akan bangun fasilitas penyokong kebandarudaraan dan pariwisata, seperti hotel dan pertamanan," jelasnya pada Jumat (23/8/2019).

Ia menuturkan, konsep yang disiapkan yaitu antara bisnis dan pelayanan. "Jadi area pelayanan baru. Kulonprogo kan agak jauh dari mana-mana, ini akan dijadikan kota baru agar bisa berkembang dengan bagus," ujarnya.

Menurutnya, di luar 86 hektar yang dimiliki Angkasa Pura I, pengembangan kawasan merupakan tanggung jawab Pemkab Kulonprogo, termasuk dalam rencananya membuat Kawasan Aerotropolis.

Faik menjelaskan, progres pembangunan bandara sampai saat ini masih sesuai dengan perencanaan. Pihak Angkasa Pura I akan mengakhiri kontrak pembangunan bandara dengan pihak PT PP sampai Juli 2020.

"Kalau kontrak dengan PP kan sampai 2020. Tapi kita rencanakan sampai Desember pembangunan akan selesai. Sampai saat ini progresnya sudah 74%. Sisi air side sudah selesai semua, tinggal pengerjaan terminal," jelas Faik.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo mencatat, Angkasa Pura I menjadi penyumbang capaian investasi Kulonprogo paling besar di tahun ini. Sampai pertengahan tahun ini, dari realisasi investasi yang masuk sebesar Rp7,6 triliun, investasi dari Angkasa Pura I yang masuk sebesar Rp1 triliun.

Kepala Bidang Pengawasan Data dan Informasi, Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo, Cahyono mengatakan, sejak ada Bandara YIA, investasi di Kulonprogo menanjak. Paling menggeliat yaitu investasi perumahan dan hotel.

Untuk perumahan, sampai 2016 tercatat hanya ada 10 pengembang saja yang berinvestasi di Kulonprogo. Lalu sampai 2018, meningkat menjadi 19 pengembang. Tahun lalu, ada tiga pengembang yang perumahan yang berinvestasi di Kulonprogo. Dua pengembang berinvestasi di Kecamatan Pengasih, satu lagi di Kecamatan Panjatan.

Untuk hotel, tahun lalu, tercatat total investasi mencapai Rp194 miliar. Ada tujuh investasi hotel yang semua lokasinya di Temon. "Rata-rata hotel berbintang," tutur Cahyono. Sementara, sebelum ada bandara, investasi hotel di Kulonprogo belum ada hotel berbintang.

Tahun ini, meskipun belum tercatat dalam Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), namun sudah masuk di Online Single Submission (OSS), ada satu hotel dan dua perumahan real estate berinvestasi di Kulonprogo.