Gerakan Indonesia Bersih Tanpa Plastik Dikampanyekan di Selasa Wage

Puluhan Anggota IIP BUMN DIY mengkampanyekan gerakan Indonesia Bersih Bebas Sampah Plastik di sela-sela kegiatan Selasa Wage, Selasa (27/8/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak.
28 Agustus 2019 10:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Puluhan ibu-ibu dari Ikatan Isteri Pimpinan Badan Usaha Milik Negara Koordinator Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (IIP BUMN DIY) mengampanyekan Gerakan Indonesia Bersih bertemakan Indonesia Bebas Sampah Plastik di Kawasan Malioboro, Selasa (28/8/2019).

Selain melakukan reresik sampah di sejumlah titik di kawasan Malioboro, anggota IIP BUMN DIY juga melakukan sosialisasi untuk tidak menggunakan bahan plastik, seperti sedotan dan tas kresek. "Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat dan pelaku bisnis dalam proses pelayanannya dapat beralih dari plastik ke bahan yang ramah lingkungan," kata Ketua IIP BUMN DIY, Heriyanti Suzana Edy Setijono di sela-sela kegiatan.

Kampanye Say No To Plastic tersebut, lanjut Suzan sekaligus menjadi salah satu motivasi agar masyarakat ikut mengumpulkan sampah plastik yang dapat ditukar dengan emas melalui tabungan yang dinilai dengan nilai emas. "Kami juga membagikan tumbler kepada anak sekolah agar mereka membawa tempat minum sendiri dari rumah. Hal ini sebagai salah satu bentuk himbauan keras terhadap pengurangan limbah plastik," katanya.

Rangkaian terakhir dari gerakan ini adalah mengunjungi Desa Wisata Lingkungan Sukunan. Selain untuk belajar mengolah sampah, Anggota IIP BUMN DIY juga diharapkan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup minim sampah.

“Kami ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas akan bahaya plastik bagi kesehatan dan lingkungan. Kami berharap tumbuh kesadaran untuk mengelola sampah terutama sampah plastik, mengurangi dan menghentikan penggunaan produk berbahan plastik," katanya.

Istri Walikota Jogja Tri Kirana Haryadi yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan di Kota Jogja saat ini sudah ada sekitar 300 bank sampah. Jumlahnya setiap tahun akan bertambah hingga tingkat RT. Hanya saja kata Ana sapaan akrab Kirana, yang paling penting saat ini bukan pengelolaan sampah. Alasannya, mengelola sampah hanya memperpanjang usia sampah saja dan belum menyelesaikan persoalan sampah.

"Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bisa mengurangi sampah. Terutama sampah-sampah dari plastik. Sebab sampah yang dikelola, dijadikan kerajinan dan daur ulang lainnya pada akhirnya akan menjadi sampah," katanya.

Gerakan pengurangan sampah ini, katanya bisa dilakukan dari diri sendiri. Di mana tidak lagi menggunakan plastik kresek untuk berbelanja, atau menggunakan sedotan plastik dan lainnya. "Dengan begitu, maka sampah plastik yang dibuang bisa berkurang. Ini membutuhkan kesadaran semua pihak," katanya.