Akses YIA-Borobudur Jadi Salah Satu Prioritas Pembangunan Pemerintah Pusat

Suasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
28 Agustus 2019 09:37 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Akses jalan dari Yogyakarta International Airport (YIA) menuju Borobudur, menjadi salah satu program pembangunan infrastruktur yang diprioritaskan oleh pemerintah pusat.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Basoeki Hadimoeljono mengatakan, dalam pembangunan pariwisata, pemerintah telah menentukan 10 destinasi 'Bali baru'. Empat di antaranya yang menjadi prioritas yaitu Borobudur, Labuan Bajo, Danau Toba, Mandalika.

"Borobudur itu termasuk akses YIA ke Borobudur, di Labuan Bajo sedang dibangun Puncak Waringin sebagai pusat souvenir, begitu juga Danau Toba, Mandalika. Semua kami tangani dengan fokus," kata dia, saat mengisi kuliah umum Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, di Lantai 1 Grha Sabha Pramana, Selasa (27/8/2019).

Kendati demikian, meski pun tepat berada di jalur YIA-Borobudur, Basoeki masih belum bisa memastikan dan berkomentar banyak, apakah proyek Bedah Menoreh yang diinisiasi Pemkab Kulonprogo, akan didukung oleh pemerintah pusat. Ia juga belum mengetahui perkembangan mengenai jalur sepanjang sekitar 52 Kilometer tersebut, selain masih sebatas rencana program Pemkab setempat.

"Nanti akan kami lihat dulu, apalagi rutenya itu sangat tinggi ya. Kami lihat dulu," ungkapnya.

Program lain yang ada dalam agenda Kementerian PUPR dan senada dengan visi presiden adalah pembangunan sumber daya manusia. Melalui sertifikasi terhadap para pekerja konstruksi. Untuk mendukungnya, KemenPUPR membangun politeknik bagi ahli setingkat 'middle manager' dalam pembangunan gedung, infrastruktur air, jembatan.

Di bidang investasi, jajarannya ingin mengundang investor dari pemerintah maupun swasta untuk membangun sektor air minum, jaringan air, listrik, jalan tol, pembangkit listrik tenaga sampah.

"Kalau visi presiden tentang infrastruktur tidak berhasil [dijalankan], berarti yang tidak berhasil itu menteri, Basoeki, bukan presiden," ucapnya.

Meski pun demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar dibangun dan jadi atau selesai. Melainkan bisa dimanfaatkan keberlanjutannya. Misalnya saja pembangunan bendungan, bisa dilanjutkan dengan persawahan, penyediaan air baku, kelistrikan [pembangkit listrik tenaga air]. Selanjutnya, jalan tol terkoneksi dengan industri kawasan sekitar.

"Program lima tahun ke depan, masih melanjutkan pembangunan infrastruktur. Kami masih ada tender lima bendungan," ucapnya.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof.Nizam menyebutkan, jumlah peserta kuliah umum ada sebanyak 471 orang. Terdiri dari 395 mahasiswa magister, 56 mahasiswa doktor, 20 mahasiswa Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) dan 10 orang dosen.