Guru Besar UGM: Proyek Pembangunan di DIY Tak Selamanya Berdampak Positif

Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. - Ist/ Dok AP I
28 Agustus 2019 15:17 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pembangunan yang terjadi di sebuah wilayah, tentu akan memunculkan sejumlah perubahan dan dampak, begitu juga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari pembangunan di DIY adalah ancaman gangguan ketahanan dan keamanan.

Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (DGB UGM), Prof Koentjoro menjelaskan, banyak studi menunjukkan, perubahan sosial yang disebabkan karena dampak pembangunan, tidak selamanya memberikan manfaat. Apabila terjadi salah kebijakan, bisa jadi pembangunan justru menyengsarakan kehidupan rakyat.

"DGB UGM mengajak, bagaimana kita [seluruh komponen masyarakat] mampu meminimalkan dampak negatif pembangunan dan mengoptimalkan dampak positif pembangunan itu," kata dia, dalam temu media usai Seminar Nasional Membangun Lingkungan Strategis dan Keamanan untuk Menciptakan Ketahanan Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, di ruang sidang pimpinan UGM, Rabu (28/8/2019).

Fakta bahwa laut selatan pulau Jawa adalah lalu lintas laut internasional, berpotensi digunakan untuk penyelundupan manusia. Demikian pula pembangunan pelabuhan Tanjung Adikarto,Yogyakarta International Airport (YIA), maka akan menjadikan Kulonprogo sebagai bagian dari Jogja, yang akan membuka hubungan internasional yang lebih luas.

"Kondisi ini jelas memfasilitasi munculnya kejahatan internasional di masa mendatang," ujarnya.

Menurut dia, lokasi YIA yang persis berbatasan langsung dan berada di sebelah timur wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, patut diduga akan menjadi sumber masalah dalam penanganan kejahatan dan keamanan. Apalagi penanganan itu memerlukan koordinasi dari dua wilayah, yang sangat membutuhkan waktu dan kearifan penanganannya.

Beragam perubahan dari pembangunan tadi, seakan memberikan kesempatan bagi kejahatan transnasional untuk mendapatkan celah. Dari sisi pergerakan masyarakat, mobilitas penduduk antar wilayah DIY dan sekitarnya juga merupakan salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian bersama.

DGB UGM melihat, dinamika lingkungan strategis yang terjadi, perlu diwaspadai sebagai suatu bentuk ancaman yang dapat mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya DIY. Berbagai permasalahan di masyarakat, perlu mendapatkan perhatian serius. Mulai dari ketahanan ideologi, intoleransi, terorisme dan radikalisme, politik, konflik kepentingan, disintegrasi sosial, ekonomi, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, sosial budaya, narkotika, penyakit sosial masyarakat, daya dukung lingkungan, serta pertahanan dan keamanan.

"Harus diantisipasi dengan perencanaan dan implementasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam menghadapinya," ungkapnya.

Koentjoro menambahkan, lewat seminar yang dilaksanakan itu, diharapkan akan dapat dielaborasi gagasan–gagasan dan solusi konkret, untuk dapat mengoptimalkan dampak positif dari pembangunan.

"Kerja sama dengan pemangku Kepentingan, dari bidang keamanan, bidang ketahanan, serta unsur pemerintah, akan menghadirkan kesamaan pandangan, dalam menyikapi situasi ke depan untuk stabilitas keamanan dan produktivitas serta peran masyarakat," paparnya.

Kapolda DIY, Irjen Pol.Ahmad Dofiri menyatakan, salah satu gangguan keamanan yang saat ini menjadi sorotan di DIY adalah penyalahgunaan narkoba dan klitih [kekerasan jalanan]. Saat ini, secara umum diketahui prevalensi kecenderungan penggunaan narkoba di DIY menurun. Namun, masih menempati rangking satu di Indonesia dalam angka jumlah pengguna kategori pelajar dan mahasiswa.

Menurut Dofiri, tingginya statistik pelajar dan mahasiswa sebagai pengguna narkoba, masih dipengaruhi dengan banyaknya perguruan tinggi di DIY.