Sekolah Rakyat Digenjot, Target 100.000 Siswa Kurang Mampu
Pemerintah targetkan 100.000 siswa kurang mampu masuk Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis tanpa pungutan.
Proses negosiasi antara jajaran Pemkab Kulonprogo dengan salah satu petambak di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Jumat (26/7/2019)./Harianjogja.com-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, KULONPROGO- Sebelum batas waktu terakhir tambak udang di Selatan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada akhir Oktober nanti, para petambak bersiap-siap sambil menunggu solusi dari pemerintah.
Salah satu petambak, Warino mengaku mau tidak mau, ia harus taat aturan untuk menghentikan tambaknya sampai waktu habis. "Mau menolak, tapi tetap tidak bisa. Kita rakyat kecil tetap tidak bisa. Hanya mengalah saja," ungkapnya pada Kamis (29/8/2019).
Saat ini, empat tambak yang dimilikinya masih beroperasi. Ada yang sudah 36 hari, bahkan ada juga yang masih dua pekan setelah tebar benih udang. Ia mengaku, mau tidak mau, apabila nanti setelah batas penggusuran di Oktober akhir belum bisa panen, terpaksa panen dini.
Pihaknya sudah mendapatkan tawaran dari Pemkab Kulonprogo perihal pemindahan lokasi tambak ke Desa Banaran, Kecamatan Galur. Namun, ia berharap pemerintah bisa memberikan pendampingan ketika pemindahan dilakukan. Karena menurut Warino, warga Desa Banaran tidak akan serta merta memberikan lahannya begitu saja untuk tambak.
"Di sana (Desa Banaran) pun pasti kasih harga yang mahal. Saya minta ke dinas, harus ada pendampingan. Kalau tidak, dia (Warga Desa Banaran) semaunya sendiri," ungkap Warino.
Petambak lainnya, Yanto mengaku ia akan mempertimbangkan lagi pemindahan tambak ke Desa Banaran seperti yang diusulkan Pemkab Kulonprogo. Menurutnya, modal yang besar dibutuhkan kalau petambak harus pindah ke Banaran.
Modal saat ini untuk menambak udang di Selatan Bandara YIA yaitu sekitar Rp50 juta, termasuk mesin dan alat lainnya. "Kalau pindah pastinya harga sewa lahan juga harus dipikirkan," beber Yanto.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Sudarna mengatakan saat ini secara perlahan pihaknya memberikan penjelasan pada petambak untuk mengejar target pengosongan lahan di akhir Oktober. "Perkembangan kawan-kawan petambak masih diberi kesempatan budi daya sampai akhir Oktober. Ada beberapa petambak menyatakan sudah tidak akan melanjutkan," katanya.
Ia menuturkan, masih ada ratusan kolam tambak yang beroperasi. "Karena masih ada waktu. Rata-raya sebaran umur sebulan, ada juga yang 25 hari, berbeda-beda tiap kolam," tutur Sudarna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aduan sampah di Sleman naik sekitar 40% pada 2026. Pembakaran sampah menjadi salah satu laporan yang paling banyak ditangani Satpol PP.
Pilur serentak Gunungkidul digelar 26 September 2026. Sebanyak 630 personel TNI-Polri disiapkan untuk pengamanan pemilihan.
Harga chip memori Apple dengan Samsung dilaporkan naik 30%–40%. Kondisi ini berpotensi memengaruhi harga iPhone pada 2027.
Jingdezhen dikenal sebagai kota asal porselen biru-putih Tiongkok. Simak sejarah, legenda, teknologi tungku, hingga qingbai.
Petani urban Pakualaman didorong mengembangkan budidaya anggrek sebagai peluang usaha melalui Bintek Budidaya Anggrek Lanjutan.