Peringati 1 Sura, Warga Pengkol Gunungkidul Gelar Kirab dan Jamasan Pusaka

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi bersama Ketua Sementara DPRD Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih ikut menari bersama dengan seniman gejok lesung dalam rangkaian acara Kirab dan Jamasan Pusaka di Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Minggu (1/9/2019)./Harian Jogja - David Kurniawan
01 September 2019 19:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Warga Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, menggelar acara Kirab dan Jamasan Pusaka di rumah budaya milik Joko Narendro, Minggu (1/9/2019). Selain untuk melestarikan adat dan tradisi, acara digelar untuk merayakan 1 Sura atau tahun baru dalam kalender Jawa yang bersamaan dengan peringatan 1 Muharam.

Acara ini berlangsung secara turun temurun. Namun penyelenggaraan baru terkonsep sejak 2010. Warga pun antusias mengikuti acara mulai dari kirab, jamasan pusaka hingga pertunjukan olah kanuragan dari kelompok silat di Gunungkidul.

Ketua panitia kirab, Muryanto, mengatakan untuk merayakan tahun baru Jawa atau 1 Sura, warga Pengkol melaksanakan berbagai kegiatan. Di malam pergantian tahun, warga menggelar kenduri tirakatan dengan sajian ingkung ayam kampung sumbangan dari masyarakat. Selanjutnya, pada 1 Sura atau 1 Muharam, warga menggelar Kirab dan Jamasan Pusaka. Selain itu, panitia melalui sesepuh desa juga menguras gentong tempat air yang dikenal masyarakat dengan nama Gentong Kalasaba. “Untuk pusaka yang dikirab cukup banyak, di antaranya tombak Koro Welang, Tombak Kiai Umbul Katon, Payung Agung dan Cemeti Amuk,” kata Muryanto kepada wartawan, Minggu (1/9).

Menurut dia, penyelenggaraan tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kirab pusaka juga menghadirkan berbagai karya tosan aji. “Acara budaya ini terus kami kembangkan dan dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali,” katanya.

Maryanto menjelaskan, tujuan kirab tidak hanya sebagai upaya melestarikan budaya, tapi juga sebagai salah satu cara mengenalkan karya warisan dari para leluhur. “Untuk peserta kirab juga mengajak abdi dalem dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejumlah pusaka diarak keliling kampung menuju pasarean Ki Ageng Damarjati, nama lain dari Sunan Trembaya,” katanya.

Kepala Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, mengatakan jajarannya berkomitmen untuk mengembangkan seni adat dan tradisi yang dimiliki. Selain sebagai upaya pelestarian juga untuk pengembangan potensi pariwisata di Bumi Handayani. “Salah satunya kami mendukung penyelenggaraan kirab budaya di Desa Pengkol,” katanya.

Menurut dia, bentuk kepedulian tidak hanya mendukung penyelenggaraan, tapi Dinas Kebudayaan juga berperan dalam proses penulisan sejarah terhadap seni adat dan tradisi yang dimiliki. “Proses dokumentasi merupakan upaya menjaga agar keberadannya tidak punah,” katanya.