Warga Dlingo Angkat Potensi Seni Mataram

Anak-anak mementaskan langen carito dalam Festival Wana Wisata Budaya Mataram di kawasan wisata Pinussari, Mangunan, Dlingo, Bantul, Sabtu (31/8/2019).-Harian Jogja - Ujang Hasanudin
03 September 2019 05:02 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Warga dari enam desa di Kecamatan Dlingo, Bantul menggelar Festival Wana Budaya Mataram di kawasan wisata Mangunan, Dlingo, Sabtu (31/8/2019). Acara tersebut menampilkan sejumlah kesenian dan tradisi yang ada di sekitar Dlingo.

Kesenian tersebut di antaranya adalah wayang wong, hadroh, kentong rampak, prajuritan, karawitan anak, jatilan, langen carito hingga salawatan.  Sebelum pementasan kesenian, ratusan warga mengarak gunungan tanaman dan berbagai jenis pohon dari kawasan wisata Seribu Batu ke Pinus Asri dan berakhir di Pinussari.

Selain gunungan tanaman dan pohon sebagai simbol wisata alam di Dlingo, ada juga sejumlah nasi tumpeng. “Festival Wana Wisata Budaya Mataram ini baru pertama digelar dan akan dilaksanakan rutin sebagai atraksi wisata,” kata Purwo Harsono, Ketua Koperasi Notowono, yang mewadahi wisata yang ada di hutan lindung Dlingo, Sabtu.

Pria yang akrab disapa Ipung ini mengatakan banyak potensi budaya dan kesenian di Dlingo selama ini jarang tampil karena tidak ada yang panggungnya sehingga tidak diketahui publik. Dengan adanya festival yang digelar para pelaku wisata Dlingo, Dinas Pariwisata DIY, para pelestari budaya, seniman dan masyarakat, semua potensi budaya dan kesenian ditampilkan.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata DIY Aria Nugrahadi mengatakan pengembangan kepariwisataan di wilayah Dlingo sudah menggembirakan. Namun, potensi budaya lokalnya belum tergali. Padahal, tiap desa memilki potensi budaya dan kesenian masing-masing yang bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Camat Dlingo Deni Ngajis Hartono mengatakan tiap desa harus saling mendukung dan tidak ada ego sektoral desa melainkan lebih luas lagi, yakni ego sektoral kecamatan. Ada enam desa di Dlingo yang masing-masing desa memiliki potensi budaya dan kesenian. "Wisatawan nanyinya tidak hanya menyaksikan alamnya tapi juga potensi budayanya,” tuturnya.