Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Perwakilan dari UMY bersama warga yang menggunakan teknologi ramah lingkungan untuk operasional UKM/Ist
Harianjogja.com, BANTUL- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memanfaatkan energi terbarukan untuk membantu pelaku Usaha Kecil Mikro (UKM) di Bantul.
UKM Batik Tugiran di Bantul memiliki permasalahan tentang kebutuhan tambahan pasokan energi listrik. Proses produksinya pun masih berbahan bakar minyak tanah dan gas yang relatif mahal dan sering langka. Sistem manajemen masih manual berbasis kertas, belum tersedia sistem informasi produk, keterampilan SDM, dan limbah industri yang belum tertangani.
Hal itu menginisiasi tim Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang terdiri dari Ramadoni Syahputra, Indah Soesanti, dan Agus Jamal, melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat lewat skema Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD), dengan misi utama yaitu meningkatkan kapasitas produksi dan manajemen usaha dalam rangka memperkuat industri batik nasional dengan penerapan energi terbarukan (solar home system).
Selama kurun waktu tiga tahun bertutut-turut, yakni 2017 hingga 2019, Tim Dosen Teknik Elektro UMY yang diketuai Ramadoni Syahputra mendapatkan kepercayaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenrisetdikti untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat program multi-tahun.
Metode yang diterapkan tim dosen Teknik Elektro adalah pemasangan pembangkit listrik energi terbarukan (solar home system) yang ramah lingkungan, proses daur ulang lilin dan pewarna kain, penyediaan kompor batik listrik otomatis, sistem manajemen yang berbasis komputer, sistem informasi produk dan pemasaran berbasis web, penambahan SDM dan peningkatan keterampilan, dan pengendalian limbah industri batik. Kegiatan-kegiatan tersebut telah diselesaikan secara bertahap setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun.
“Target khusus kegiatan PPM PPPUD ini adalah terjadinya peningkatan kualitas dan jumlah produk batik masing-masing UKM sebesar 10 persen per tahun selama tiga tahun dan berdampak pada peningkatan cash-flow dan laba UKM sebesar 10 persen per tahun selama tiga tahun,” ujar Ramadoni melalui rilis, Selasa (3/9/2019).
Kegiatan PPM PPPUD ini telah memberikan hasil yang bermanfaat khususnya bagi UKM Batik Tugiran dan menjadi pendorong bagi industri batik lainnya baik di Kabupaten bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan industri batik nasional.
“Aplikasi pembangkit listrik tenaga surya dan penggunaan kompor batik listrik terbukti mampu menekan biaya produksi secara signifikan. Keuntungan lainnya adalah ruang produksi yang relatif lebih bersih dari polusi udara yang selama ini dihasilkan dari kompor minyak tanah," kata dia.
"Semoga kegiatan ini memberikan kontribusi dalam rangka memperkuat industri lokal berbasis warisan budaya dalam persaingan pasar nasional dan internasional,” ujarnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.