Revitalisasi Stasiun Tugu Tertunda Surat Kekancingan

Stasiun Tugu - JIBI/dok
08 September 2019 18:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJARevitalisasi Stasiun Tugu Jogja yang dijadwalkan mulai Juli 2019 terpaksa ditunda lantaran terganjal masalah administrasi. Salah satunya terkait dengan surat kekancingan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang belum turun.

Direktur Human Capital dan Pengembangan PT Hutama Karya (Persero), Putut Ariwibowo, menyatakan tidak ada kendala yang berarti dari proyek revitalisasi Stasiun Tugu. Hanya saja, katanya, masih ada kendala terkait dengan status penyerahan tanah Sultan Grond (SG). "Surat kekancingan belum turun. Mudah-mudahan bisa secepatnya," kata dia saat ditemui Harian Jogja di Hotel Marriot Jogja, Sabtu (7/9/2019).

Putut optimistis groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek revitalisasi Stasiun Tugu tetap dilakukan tahun ini. Pasalnya, proyek revitalisasi stasiun tersebut juga erat kaitannya dengan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulonprogo. "Iya [terkait dengan beroperasinya YIA], terutama dengan jalur kereta bandara. Oleh karena itu kami tetap optimistis proyek ini dimulai tahun ini," kata Putut.

Dijelaskan Putut, jalur kereta bandara di Stasiun Tugu nantinya diberikan jalur khusus. Lokasinya juga tidak seperti yang ada saat ini. "Letaknya ada di sisi utara Stasiun Tugu. Nanti dilakukan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi agar penumpang yang hendak ke bandara tidak terganggu," ujarnya.

Pembangunan jalur khusus untuk kereta bandara tersebut, menurut Putut, termasuk dalam tahap pertama revitalisasi Stasiun Tugu. Selain di sisi utara, tahap pertama revitalisasi stasiun juga dilakukan di sisi selatan dimulai dari Jalan Pasar Kembang. "Bangunan heritage di stasiun tetap, tidak diubah. Revitalisasi difokuskan pada peningkatan kapasitas stasiun untuk mendukung pelayanan jalur kereta bandara," katanya.

PT Hutama Karya, kata Putut, berperan sebagai Pengembang (developer) Kawasan Transit Oriented Development Stasiun Tugu. Proyek ini berupaya mengintegrasikan pengembangan kawasan Stasiun Tugu dengan Kawasan Wisata Malioboro.

"Dari gaya arsitektur bangunan kami selaraskan dengan gaya arsitektur Stasiun Tugu yang sudah ada sehingga meskipun terdapat bangunan baru tetap tidak mengubah atau mengurangi nilai-nilai heritage kawasan," kata Putut.

Sekadar diketahui, nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp854 miliar, terdiri atas pengurusan perizinan, penunjukan konsultan sampai dengan konstruksi bangunan, termasuk persiapan pengelolaan bangunan yang akan dibangun. Target penyelesaian konstruksi proyek ini selama empat tahun yang terbagi dalam tiga tahapan pembangunan, baik sisi timur, tengah maupun barat stasiun.

Menurut Putut, masterplan sudah disusun oleh PT Hutama Karya dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak dan saat ini dalam proses persetujuan para pihak mulai Pemda DIY, Pemkot Jogja, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Hutama Karya (Persero).

Sebelumnya Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti, mengatakan desain rencana revitalisasi Stasiun Tugu sudah disepakati oleh lima pihak yang menjalin kerja sama. Desain yang diusung meski tampil modern tetap menonjolkan kekhasan Jogja. "Desain sudah disepakati bersama lima pihak. Revitalisasi meliputi kawasan seluas delapan hektare dengan luas bangunan 135.000 meter persegi atau 13,5 hektare. Estimasi biayanya sekitar Rp854 miliar," kata Haryadi.

Menurutnya, proyek ini masih mempertahankan sebagian bangunan lama (eksisting) dan sebagian lainnya direvitalisasi. Secara arsitektur kawasan ini akan memiliki fungsi stasiun, area parkir, kawasan zona komersial termasuk ruang terbuka hijau. Salah satu pengembangan yang dilakukan yakni rencana peron khusus bagi kereta bandara. "Kalau saat ini untuk kereta bandara peron dilayani di sisi selatan, ke depan sisi utara dijadikan akses [peron] khusus kereta bandara," katanya.

Kawasan tersebut dikembangkan sebagai kawasan terintegrasi di mana selain kereta bandara, di kawasan tersebut juga akan dibangun museum, kawasan hunian dan komplek komersial. "Nanti ada museum, galeri, pusat pembelanjaan, hunian apartemen berbentuk hotel kapsul yang sudah banyak diadopsi seperti di Stasiun Gambir di Jakarta. Itu gambarannya. Modern tapi tidak meninggalkan aspek tradisional Jogja," katanya.

Revitalisasi Stasiun Tugu, kata Haryadi, menjadikan sub kawasan Malioboro itu sebagai pintu gerbang Kota Jogja. Sebab Stasiun Tugu menjadi pintu perlintasan para wisatawan yang masuk melalui YIA. Mau tidak mau, kata Haryadi, sistem transportasi harus dibenahi untuk menampung wisatawan yang masuk Jogja. "Dengan kapasitas bandara YIA yang mencapai 26 juta orang per tahun, ambil 50 persennya saja yang masuk tempat wisata di Jogja, maka akses ke Malioboro harus lebih representatif," kata Haryadi.