Perekonomian DIY Dinilai Bagus di Mata Konsumen

Ilustrasi perajin cangklong. - Antara/Nurul Ramadhan
08 September 2019 20:07 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia DIY pada periode Agustus 2019 mengindikasikan optimisme  terhadap kondisi perekonomian DIY.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Miyono, mengungkapkan hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2019 yang tercatat 142,8, jauh di atas batas indeks 100. Indeks tersebut juga lebih tinggi 5,6 poin dari indeks pada bulan yang sama 2018.

"Terjaganya optimisme konsumen pada Agustus 2019 ditopang oleh optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya, dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan dibandingkan saat ini," kata dia, Sabtu (7/9/2019).

Ia menjelaskan optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini terindikasi dari indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) yang tercatat 133,7, meski sedikit terkoreksi 4,2 poin dibandingkan capaian Juli 2019. Tetap terjaganya optimisme ini terkonfirmasi oleh keyakinan sebagian besar responden bahwa kegiatan usaha saat ini relatif membaik dibandingkan enam bulan yang lalu, dengan indeks kegiatan usaha saat ini tercatat 139,5, meski terkoreksi dari indeks Juli 2019.

Sementara terkoreksinya IKE dimotori menurunnya keyakinan terhadap penghasilan konsumen, namun tetap terjaga dalam level optimis dengan indeks 140,5. Di sisi lain, keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini dan pembelian barang tahan lama (durable goods) menguat dari bulan sebelumnya. "Peningkatan pembelian durable goods mayoritas terjadi pada jenis barang kendaraan [sepeda motor, mobil], perabotan tumah tangga dan perhiasan," ujar dia.

Konsumen juga optimistis enam bulan ke depan kondisi ekonomi DIY semakin membaik. Hal ini tercermin dari indeks ekspektasi konsumen (IEK) yang tercatat sebesar 152,5, atau menguat 1,5 poin. Menguatnya optimisme ini terkonfirmasi oleh keyakinan mayoritas responden bahwa kegiatan usaha enam bulan mendatang relatif membaik dibandingkan saat ini, dengan indeks ekspektasi kegiatan usaha sebesar 156,5, jauh di atas batas indeks 100.

Sejalan dengan itu, indeks ekspektasi konsumen terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan enam bulan ke depan terpantau menguat 7,5 poin dari indeks bulan sebelumnya. Seiring dengan penguatan ekspektasi dimaksud, konsumen juga masih meyakini adanya kenaikan penghasilan pada enam bulan mendatang.

Kondisi ini terkonfirmasi dari indeks ekspektasi penghasilan konsumen Agustus 2019 sebesar 149,5, meski sedikit terkoreksi dari capaian Juli 2019, yang ditengarai didorong oleh terbatasnya kenaikan omset usaha maupun kenaikan/tambahan gaji/upah konsumen pada enam bulan ke depan. Pada periode enam bulan ke depan (Februari 2020), responden memperkirakan tekanan harga sedikit meningkat dengan indeks ekspektasi harga (IEH) enam bulan yang akan datang sebesar 178,0, meningkat 4,5 poin.

"Ditinjau dari aspek komoditas, mayoritas responden memperkirakan meningkatnya tekanan harga terjadi pada komoditas jasa, peralatan rumah tangga, dan perumahan," kata Miyono.

Berdasarkan alokasi pendapatan, mayoritas pendapatan konsumen digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) dengan proporsi sebesar 61,1%, reatif stabil dari Juli 2019. Seiring dengan itu, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) tercatat relatif stabil sebesar 20,4%. Sementara proporsi pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan (debt service to income ratio), meningkat menjadi 18,6% dari 17,9% pada Juli 2019.

Sebagian besar responden (96,6%) mengaku pendapatan yang diperoleh saat ini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga, dengan 24,1% diantaranya memiliki tingkat penghasilan yang melebihi standar kebutuhan sehari–hari. Survei menunjukkan bahwa 89,5% responden telah memiliki dana cadangan untuk kejadian tak terduga, dengan mayoritas berupa deposito/tabungan/cash dan bernilai lebih dari satu hingga enam bulan pendapatan.

Mayoritas responden rumah tangga menjadikan instrumen simpanan pada perbankan sebagai preferensi utama untuk menempatkan kelebihan pendapatan dalam 12 bulan mendatang (sampai dengan Agustus 2020), terutama dalam bentuk tabungan atau deposito, emas atau perhiasan, dan properti. Sedangkan terkait pemilihan jasa perbankan, konsumen secara konsisten mempertimbangkan dari segi pelayanan (99,5% responden), kenyamanan (95,2% responden), serta lokasi (80,9% responden).