DIY Disarankan Punya Senam Ciri Khas Jogja

Ratusan orang ikut dalam senam massal di Kawasan Titik Nol Kilometer Kota Jogja. - Dok. Harian Jogja.
10 September 2019 14:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJASenam dinilai menjadi salah satu strategi yang tepat untuk memasyarakatkan olah raga. DPRD DIY menyarankan Pemda DIY membuat senam khusus atau senam Jogja Istimewa yang bisa dipraktikkan setiap instansi maupun sekolah.

“DIY perlu memiliki senam Jogja Istimewa, ini sebagai sarana untuk memasyarakatkan olah raga. Kami akan usulkan agar Pemda DIY menganggarkan pembuatan senam Jogja Istimewa ini melalui APBD atau danais,” terangnya Wakil Ketua Sementara DPRD DIY Huda Tri Yudiana, Selasa (10/9/2019). Keterangan itu disampaikan Huda dalam merespons peringatan Hari Olah Raga Nasional (Haornas) yang jatuh pada tanggal 9 September 2019.

Huda menilai senam tersebut nantinya bisa menjadi ciri khas Jogja. Selain untuk memasyarakatkan olah raga, juga menjadi sarana pendidikan budaya dan budi pekerti. “Senam yang ada saat ini memang sudah baik, tetapi menurut saya, penting juga ketika DIY memiliki senam tersendiri, ya mungkin bisa dinamakan senam Jogja Istimewa,” ujarnya.

Ia menambahkan gerakan dan iringan musik senam tersebut bisa dibuat dengan memasukkan unsur pendidikan dan nilai budaya Jogja. Huda meyakini soal rancangan gerakan senam tersebut bisa dibuat dengan baik, apalagi DIY ada Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang memiliki Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang bisa digandeng untuk bekerja sama.

“Gerakan dan musik dibuat dengan mencerminkan sejarah patriotisme DIY yang kemudian bergabung ke NKRI serta mengandung nilai pendidikan, budaya, budi pekerti,” ujarnya.

Senam tersebut, kata Huda, nantinya bisa dipakai di sekolah serta instansi di lingkungan Pemda DIY. Instruktur bisa lebih dahulu memberikan training kepada guru dan perwakilan instansi. “Jadi kita memasyarakatkan olahraga sekaligus cinta budaya jogja. Olahraga bisa menjadi sarana efektif untuk pendidikan budi pekerti, patriotisme sekaligus cinta budaya,” ujarnya.

Terpisah Dosen FIK UNY Fajar Sri Wahyuniati menilai usulan adanya senam dengan khas Jogja tersebut tergolong menarik. Apalagi jika dikolaborasikan antara olahraga dengan budaya maka akan lebih mengena di hati masyarakat. “Sehingga ketika senam, selain sehat dengan iringan musik dan gerakan khusus tadi, nilai budayanya juga didapatkan. Kalau menurut saya ini usulan menarik,” kata dosen yang mengampu mata kuliah khusus senam ini.

Terkait dengan gerakan, Sri Wahyuniati memastikan gerakan senam sangat bisa disesuaikan dengan unsur budaya, baik dengan gerak pelan maupun musik langsung. Ia mencontohkan, seperti musik bisa diambilkan melalui suara gamelan khas Jogja, begitu juga gerakan bisa menyesuaikan.  

Hanya saja untuk membuat senam tersebut butuh kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintahan hingga masyarakat, dengan menerima masukan sehingga hasilnya sejalan dengan nilai budaya. Ia mengatakan untuk menghasilkan senam ciri khas budaya seperti ini butuh waktu sekitar enam bulan hingga setahun.

“Karena yang lama itu kan risetnya, bagimana agar nilai budaya itu bisa muncul di senam, riset budayanya harus sesuai. Kebetulan kami juga pernah diminta menyusun senam peregangan di Pemkot [Jogja], tetapi ini sederhana gerakannya. Kalau ada pemikiran khusus senam khas Jogja ini akan lebih baik jadi nanti bisa dipakai di semua instansi dan sekolah, kalau ada event bisa dipakai,” ujarnya.