Kasus Kekerasan Anak di Gunungkidul Capai 50 hingga Juli
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Siswa membawa sajam ke sekolah/Twitter
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, prihatin dengan adanya siswa SMP di Kecamatan Ngawen yang mendatangi sekolah dengan membawa senjata tajam dan menjadi viral di media sosial. Dia berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bersama sehingga kasus tidak terulang kembali. “Kedepankan edukasi sehingga anak bisa mendapatkan bimbingan yang benar,” kata Immawan kepada wartawan, Kamis (12/9/2019).
Menurut dia, kejadian ini bisa diantisipasi dengan beberapa langkah. Salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang bahaya gadget, baik dari sisi psikologi maupun kesehatan. “Larangan membawa gawai ke sekolah menjadi salah satu cara, tapi agar lebih efektif anak-anak harus diberikan pemahaman terkait dengan bahaya gadget,” katanya.
Immawan menjelaskan smartphone tidak hanya memiliki dampak positif karena keberadannya bisa mempermudah akses informasi dan komunikasi. Di sisi lain ponsel dapat menimbulkan dampak negatif bagi pemakainya. “Jika digunakan secara berlebihan tidak baik hasilnya,” katanya.
Dia mengungkapkan berdasarkan hasil dari penelitian disebutkan bahwa efek buruk dari smartphone tidak hanya berdampak terhadap kesehatan karena radiasi yang ditimbulkan dapat merusak fungsi mata. Sementara itu, dari sisi psikologis dapat menimbulkan efek kecanduan yang bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. “Dampak buruk dari gawai ini yang harus disosialisasikan sehingga anak-anak bisa paham dengan risiko penggunaan gawai secara berlebihan,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengatakan kasus yang melibatkan seorang siswa SMP di Kecamatan Ngawen sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Adapun anak yang menjadi pelaku tetap diperbolehkan sekolah. “Ketika anak yang berbuat kurang benar maka kewajiban kita memperbaikinya,” kata Bahron.
Menurut dia, untuk mengantisipasi kejadian yang sama di sekolah-sekolah sudah memiliki program, mulai dari peningkatan pendidikan karakter hingga upaya memperluas budaya literasi bagi para siswa. “Ini hanya bagian kecil dinamika di sekolah sehingga saat ada kejadian langsung membuat program baru. Ya program yang ada terus dijalankan karena yang terpenting dengan kejadian itu ada hikmahnya agar para orang tua, masyarakat juga ikut peduli terhadap apa yang terjadi di lingkungan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Gets Premiere Yogyakarta menggelar Mini Wedding Showcase dengan konsep pernikahan elegan, intim, dan promo menarik bagi calon pengantin.
PHE ONWJ menyisir perairan Karawang usai dugaan kebocoran pipa gas. Hasil pemeriksaan menunjukkan fasilitas operasi tetap aman dan normal.
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
Munja menargetkan ekspor kendaraan pemadam kebakaran mulai 2027 setelah menguasai 35% pasar domestik dan membidik pangsa pasar 70%.
DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta melantik pengurus Baguna periode 2025-2030 sekaligus menggelar simulasi penyelamatan korban bencana di Sungai Gajahwong.