Dampak Negatif dari Gawai Harus Disosialisasikan Secara Luas

Siswa membawa sajam ke sekolah - Twitter
12 September 2019 15:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, prihatin dengan adanya siswa SMP di Kecamatan Ngawen yang mendatangi sekolah dengan membawa senjata tajam dan menjadi viral di media sosial. Dia berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bersama sehingga kasus tidak terulang kembali. “Kedepankan edukasi sehingga anak bisa mendapatkan bimbingan yang benar,” kata Immawan kepada wartawan, Kamis (12/9/2019).

Menurut dia, kejadian ini bisa diantisipasi dengan beberapa langkah. Salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang bahaya gadget, baik dari sisi psikologi maupun kesehatan. “Larangan membawa gawai ke sekolah menjadi salah satu cara, tapi agar lebih efektif anak-anak harus diberikan pemahaman terkait dengan bahaya gadget,” katanya.

Immawan menjelaskan smartphone tidak hanya memiliki dampak positif karena keberadannya bisa mempermudah akses informasi dan komunikasi. Di sisi lain ponsel dapat menimbulkan dampak negatif bagi pemakainya. “Jika digunakan secara berlebihan tidak baik hasilnya,” katanya.

Dia mengungkapkan berdasarkan hasil dari penelitian disebutkan bahwa efek buruk dari smartphone tidak hanya berdampak terhadap kesehatan karena radiasi yang ditimbulkan dapat merusak fungsi mata. Sementara itu, dari sisi psikologis dapat menimbulkan efek kecanduan yang bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. “Dampak buruk dari gawai ini yang harus disosialisasikan sehingga anak-anak bisa paham dengan risiko penggunaan gawai secara berlebihan,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengatakan kasus yang melibatkan seorang siswa SMP di Kecamatan Ngawen sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Adapun anak yang menjadi pelaku tetap diperbolehkan sekolah. “Ketika anak yang berbuat kurang benar maka kewajiban kita memperbaikinya,” kata Bahron.

Menurut dia, untuk mengantisipasi kejadian yang sama di sekolah-sekolah sudah memiliki program, mulai dari peningkatan pendidikan karakter hingga upaya memperluas budaya literasi bagi para siswa. “Ini hanya bagian kecil dinamika di sekolah sehingga saat ada kejadian langsung membuat program baru. Ya program yang ada terus dijalankan karena yang terpenting dengan kejadian itu ada hikmahnya agar para orang tua, masyarakat juga ikut peduli terhadap apa yang terjadi di lingkungan,” katanya.