Keluarga Panwas Desa Menangis saat Terima Santunan

Ketua Bawaslu Kulonprogo, Ria Harlinawati menyerahkan santunan kepada keluarga panwaslu di Kantor Bawaslu Kulonprogo, Kecamatan Wates, Kamis (12/9/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara.
14 September 2019 19:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Tangis haru mewarnai penyerahan santunan bagi jajaran Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Kulonprogo yang tertimpa musibah selama menjalankan tugas dalam gelaran Pemilu 2019. Dua dari enam keluarga panwaslu yang hadir untuk menerima santunan di Kantor Badan Pengawas Pemilu Kulonprogo, Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Kamis (12/9/2019) pagi, tak kuasa menahan air matanya.

Keduanya yaitu Sumartin, 47, warga Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo dan Tusinem, 58, warga Kelurahan Wates, Kecamatan Wates. Suami kedua perempuan tersebut gugur saat bertugas dalam Pemilu 2019.

Suami Sumartin, Thomas Slamet Riyadi meninggal dunia sehari setelah penghitungan suara, Rabu (17/4/2019) silam. Thomas yang merupakan anggota Panwas Desa Purwosari menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. "Malam setelah penghitungan suara, bapak jatuh sakit, dan saya bawa ke rumah sakit, tapi di rumah sakit bapak dinyatakan meninggal dunia," ungkap Sumartin kepada awak media usai menerima santunan.

Sumartin menduga, sakit yang diderita suaminya karena kecapekan. Pasalnya, sang suami hampir tidak pernah tidur selama melaksanakan tugas negara itu. "Bapak kalau kerja giat banget, bahkan jam 10 malam kalau harus kerja dia pasti berangkat," ujarnya.

Sementara suami Tusinem, Sardiyono meninggal dunia sebulan pasca hari H pencoblosan. Sebelum berpulang ke Sang Khalik, Sardiyono sempat dirawat intensif selama enam hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates . Pria yang juga menjabat sebagai Ketua RW di Sebokarang, Wates ini harus dirawat karena kecapekan pasca bertugas menjadi Panwas wilayah Wates.

"Bapak sempat mengeluh pusing dan akhirnya kami bawa ke Puskemas, karena Puskemas tidak sanggup kami diminta untuk membawa bapak ke RSUD Wates " ujar perempuan yang saban hari berjualan pisang di Pasar Pagi Wates tersebut.

Setelah enam hari opname, kondisi Sardiyono membaik. Oleh pihak rumah sakit, yang bersangkutan diperbolehkan pulang.  Namun, sehari setelah pulang Sardiyono langsung ikut kerja bakti membangun jalan di desanya.

"Saat kerja bakti itu bapak mengeluh capek dan pingsan, saya sempat bawa ke Rumah Sakit Kharisma untuk dapat oksigen, tapi ternyata di sana habis, saya lalu bergegas ke RSUD Wates, tapi saat sudah sampai di ruang UGD, bapak dinyatakan meninggal," ungkapnya.

Atas meninggalnya suami kedua perempuan tersebut, Pemerintah Pusat melalui Bawaslu Kulonprogo memberi santunan berupa uang senilai Rp16,5 juta. Selain keduanya, santunan juga diberikan kepada empat panwaslu lain yang mengalami kecelakaan kerja hingga menimbulkan luka, yakni Ahmad Syafiiq, Panwaslu Desa Banjararum, Kalibawang; Ruwaida Rismawati, Panwaslu Desa Hargotirto, Kokap; Reza Bakhtiar Ramadhan, Panwaslu Desa Kaliagung, Sentolo dan Janarta, Panwaslu Desa Sentolo, Sentolo. Masing-masing memperoleh santunan sebesar Rp8,25 juta.

"Sebenarnya ada beberapa panwas lain yang mengalami musibah. Tapi tidak semuanya mendapatkan santunan. Ada proses verifikasi, seperti menyertakan surat dokter hingga rontgen, kemudian kami kirim ke Bawaslu DIY dan Bawaslu RI. Memang yang dapat ini [santunan] kebanyakan karena luka sedang hingga meninggal dunia," kata Ketua Bawaslu Kulonprogo, Ria Harlinawati.

Ria mengatakan keenam penerima santunan tersebut terdiri dari lima panwas desa dan satu panwas TPS. Beban dua bidang panwas tersebut menurutnya jauh lebih berat dibandingkan panwas kecamatan maupun jajaran di atasnya. Pasalnya mereka hanya bekerja sendiri untuk satu desa atau satu TPS.

"Tugas mereka kan panwas desa, sementara panwas desa itu hanya satu untuk setiap desa, begitupun dengan panwas TPS. Jadi bisa dikatakan beban kerja mereka yang paling berat," ungkapnya.

Dia menerangkan, kecelakaan kerja yang menimpa para panwas ini rata-rata disebabkan karena capek. Hal ini mengingat pelaksana Pemilu 2019 dilangsungkan secara serentak sehingga memakan waktu berhari-hari. Akibatnya, tenaga panwas terkuras. Banyak panwas yang kemudian kurang konsentrasi sehingga saat pulang bertugas mengalami kecelakaan, seperti jatuh. Beberapa di antaranya ada yang sakit sampai meninggal dunia.