Tombak Kyai Wijoyo Mukti Dijamas

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (kiri) menjamasi Pusaka Kyai Wijoyo Mukti di Halaman Balai Kota Jogja, Kamis (19/9/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
19 September 2019 17:52 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menggelar Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti tahun ini di Halaman Balai Kota Jogja, Kamis (19/9/2019). Dalam ritual yang digelar setiap bulan Sura itu, tombak Kyai Wijoyo Mukti yang merupakan amanah dari Sri Sultan HB X dimandikan dan diarak keliling Balai Kota Jogja.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya nguri-uri kabudayan jawi. "Dulu oleh Ngarsa Dalem, Pemkot diberikan pusaka ini. Karena perlu dijaga dan dirawat, maka setiap tahun kami melakukan jamasan," kata dia kepada wartawan seusai ritual Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti di halaman Balai Kota Jogja, Kamis.

Dia menjelaskan ritual tersebut dilakukan pada Kamis Pahing Bulan Sura. Pasalnya pada Kamis Pahing, para aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkot Jogja sedang mengenakan pakaian adat Jawa. Adapun Bulan Sura dipilih, menurut dia karena menurut budaya Jawa, Sura merupakan Tahun Baru sehingga waktu yang tepat untuk membersihkan segala hal.

Sebagai catatan, pusaka Kyai Wijoyo Mukti berwujud tombak sepanjang tiga meter. Nama Wijoyo Mukti, kata Heroe, bermakna sebuah harapan agar Pemkot Jogja bisa menjaga seluruh perangkat untuk bekerja dengan baik demi kesejahteraan warga Jogja. "Ini semacam surat perintah [dari Sri Sultan HB X], tetapi bentuknya berupa pusaka," ujarnya.

Tombak Kyai Wijoyo Mukti dibuat pada 1921, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pusaka tersebut sebelumnya di simpan di Bangsal Pracimasono. Tombak tersebut baru diserahkan kepada Pemkot Jogja pada HUT ke-53 Pemkot Jogja, tepatnya pada 7 Juni 2000.

Prosesi Jamasan dimulai dengan dikeluarkannya Tombak Kyai WIjoyo Mukti dari Kantor Wali Kota Jogja. Setelah dikirab mengitari Balai Kota Jogja, barulah tombak itu dibersihkan. Pembersihan dilakukan melalui beberapa tahapan dengan beragam bahan, mulai dari air sumur, air jeruk, dan arsenik untuk melapisi bilah. “Terakhir, diminyaki dan ditutup kembali,” kata Heroe.

Anggota Paguyuban Pecinta Tosan Aji Pametri wiji, Victor, mengatakan selain Tombak Kyai Wijoyo Mukti, jamasan kali ini juga dilakukan pada 50 pusaka lain milik ASN Pemkot Jogja. Beberapa pusaka yang dijamas, kata dia, terdiri dari tombak, keris dan pedang.

Perawatan pada pusaka, kata dia, cukup sederhana, yakni dilakukan jamasan setahun sekali. Di luar itu, pusaka sebatas perlu diminyaki secara rutin. "Lebih baik jamasan dilakukan oleh pemilik pusaka itu sendiri. Namun kalau tidak bisa, boleh dijamasi oleh yang sudah biasa [menjamas]," ujar dia.