Kampung Lampion Jogja Jadi Percontohan Nasional Penataan Tepi Sungai
Deputi Kemenko Ronny Hutahayan apresiasi Kampung Lampion Kotabaru sebagai model nasional. 38 rumah Rp1,5 miliar swakelola, jalan 3-4m akses ambulans.
Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (kiri) menjamasi Pusaka Kyai Wijoyo Mukti di Halaman Balai Kota Jogja, Kamis (19/9/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menggelar Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti tahun ini di Halaman Balai Kota Jogja, Kamis (19/9/2019). Dalam ritual yang digelar setiap bulan Sura itu, tombak Kyai Wijoyo Mukti yang merupakan amanah dari Sri Sultan HB X dimandikan dan diarak keliling Balai Kota Jogja.
Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya nguri-uri kabudayan jawi. "Dulu oleh Ngarsa Dalem, Pemkot diberikan pusaka ini. Karena perlu dijaga dan dirawat, maka setiap tahun kami melakukan jamasan," kata dia kepada wartawan seusai ritual Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijoyo Mukti di halaman Balai Kota Jogja, Kamis.
Dia menjelaskan ritual tersebut dilakukan pada Kamis Pahing Bulan Sura. Pasalnya pada Kamis Pahing, para aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkot Jogja sedang mengenakan pakaian adat Jawa. Adapun Bulan Sura dipilih, menurut dia karena menurut budaya Jawa, Sura merupakan Tahun Baru sehingga waktu yang tepat untuk membersihkan segala hal.
Sebagai catatan, pusaka Kyai Wijoyo Mukti berwujud tombak sepanjang tiga meter. Nama Wijoyo Mukti, kata Heroe, bermakna sebuah harapan agar Pemkot Jogja bisa menjaga seluruh perangkat untuk bekerja dengan baik demi kesejahteraan warga Jogja. "Ini semacam surat perintah [dari Sri Sultan HB X], tetapi bentuknya berupa pusaka," ujarnya.
Tombak Kyai Wijoyo Mukti dibuat pada 1921, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pusaka tersebut sebelumnya di simpan di Bangsal Pracimasono. Tombak tersebut baru diserahkan kepada Pemkot Jogja pada HUT ke-53 Pemkot Jogja, tepatnya pada 7 Juni 2000.
Prosesi Jamasan dimulai dengan dikeluarkannya Tombak Kyai WIjoyo Mukti dari Kantor Wali Kota Jogja. Setelah dikirab mengitari Balai Kota Jogja, barulah tombak itu dibersihkan. Pembersihan dilakukan melalui beberapa tahapan dengan beragam bahan, mulai dari air sumur, air jeruk, dan arsenik untuk melapisi bilah. “Terakhir, diminyaki dan ditutup kembali,” kata Heroe.
Anggota Paguyuban Pecinta Tosan Aji Pametri wiji, Victor, mengatakan selain Tombak Kyai Wijoyo Mukti, jamasan kali ini juga dilakukan pada 50 pusaka lain milik ASN Pemkot Jogja. Beberapa pusaka yang dijamas, kata dia, terdiri dari tombak, keris dan pedang.
Perawatan pada pusaka, kata dia, cukup sederhana, yakni dilakukan jamasan setahun sekali. Di luar itu, pusaka sebatas perlu diminyaki secara rutin. "Lebih baik jamasan dilakukan oleh pemilik pusaka itu sendiri. Namun kalau tidak bisa, boleh dijamasi oleh yang sudah biasa [menjamas]," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Deputi Kemenko Ronny Hutahayan apresiasi Kampung Lampion Kotabaru sebagai model nasional. 38 rumah Rp1,5 miliar swakelola, jalan 3-4m akses ambulans.
Seskab Teddy Indra Wijaya menepis anggapan Sekolah Rakyat tak bermutu. Lebih dari 43.000 anak telah mendapat kesempatan belajar.
Indonesia kalah 1-3 dari Filipina pada Leg 2 SEA V Cup Women's 2026 setelah melewati drama panjang pada set keempat.
Kapal tanker ADNOC diserang rudal di Selat Hormuz. UEA menuding Iran dan sejumlah negara Teluk mengecam serangan tersebut.
Istana Kepresidenan menegaskan belum ada rencana Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih dalam waktu dekat. Menteri Se
Polresta Karawang menangkap tiga pelaku pengoplos LPG subsidi 3 kg. Polisi menyita 245 tabung dan peralatan pemindahan gas.